Sebanyak 444 izin pertambangan tercatat di Sulawesi Tengah hingga September 2026. Di tengah besarnya aktivitas sektor mineral tersebut, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny A. Lamadjido menegaskan bahwa kekayaan tambang tidak boleh berhenti pada produksi dan investasi, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat serta tetap menjaga lingkungan dan keselamatan kerja.
Penegasan itu disampaikan Reny saat menghadiri Jambore Pertambangan Sulawesi Tengah 2026 di Sriti Convention Hall Palu, Selasa (22/9). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Pertambangan Ramah Lingkungan untuk Generasi Mendatang dan Peradaban Berkelanjutan”.
Data per September 2026 mencatat terdapat 151 izin pertambangan mineral logam serta 293 izin mineral bukan logam dan batuan di Sulawesi Tengah. Besarnya jumlah izin tersebut menjadi gambaran besarnya potensi ekonomi sekaligus tanggung jawab dalam mengawal aktivitas pertambangan.
“Kami sangat senang sekali ada tambang-tambang di Sulawesi Tengah, tetapi yang kami harapkan adalah manfaatnya juga dirasakan masyarakat, termasuk melalui penerimaan daerah dan penyerapan tenaga kerja,” ujar Reny.
Menurut Reny, keberadaan industri pertambangan harus memberikan nilai tambah bagi daerah. Penerimaan daerah, pembukaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi bagian dari manfaat yang diharapkan muncul dari aktivitas investasi pertambangan.
Ia juga mengingatkan agar besarnya aktivitas pertambangan tidak membuat persoalan lingkungan diabaikan. Pertumbuhan sektor tambang, kata Reny, harus berjalan bersama dengan upaya menjaga lingkungan agar dampaknya tidak menjadi beban masyarakat dan generasi mendatang.
“Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi sekaligus besarnya tanggung jawab kita dalam memastikan kegiatan pertambangan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Reny meminta para Kepala Teknik Tambang tidak hanya berfokus pada aspek teknis operasional. Mereka juga harus berperan dalam membangun budaya keselamatan, kepatuhan, profesionalisme, dan keberlanjutan di lingkungan kerja.
“Kalau kita berbicara lingkungan, kita tidak berbicara lingkungan alam saja, tetapi mungkin lingkungan kerja juga,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Reny memberikan perhatian khusus terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Ia menegaskan bahwa pencapaian produksi tidak boleh mengesampingkan keselamatan pekerja.
“Tidak ada target produksi yang sebanding dengan satu nyawa manusia,” katanya.







