Pengakuan Pilu Wanita yang Hilang 2 Tahun: Saya Hanya Ingin Bisa Melihat Lagi
Kisah seorang wanita berinisial YTR (29) asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan setelah menghilang selama hampir dua tahun membuat banyak orang terenyuh. Saat ditemukan di sebuah rumah kos di Bandung, kondisi fisiknya sudah jauh berbeda dari saat terakhir kali meninggalkan rumah. Wajahnya mengalami banyak luka, penglihatannya rusak, tubuhnya dipenuhi bekas kekerasan, dan ia harus segera mendapatkan perawatan medis intensif.
Bagi keluarganya, kabar penemuan itu menjadi momen yang campur aduk antara lega dan hancur. Selama dua tahun terakhir mereka terus mencari keberadaan Y, meski berkali-kali mendapat jawaban yang membuat mereka percaya bahwa wanita tersebut masih baik-baik saja. Tidak ada yang menyangka bahwa selama ini Y diduga hidup dalam penderitaan yang sulit dibayangkan.
Dilansir dari Podcast Denny Sumargo, kakak korban menceritakan bagaimana semuanya bermula. Y diketahui bekerja di sebuah perusahaan makanan dan sempat dipindahkan dari tempat kerja lamanya ke Bandung. Pada awalnya tidak ada yang terlihat aneh. Ia masih rutin pulang ke rumah dan berkomunikasi dengan keluarga seperti biasa.
Perubahan mulai terlihat setelah Y mengenal seorang pria yang kemudian menjadi sosok terakhir yang diketahui dekat dengannya. Keluarga mengaku sempat melihat foto pria tersebut melalui media sosial korban. Meski memiliki firasat yang kurang baik, mereka tidak pernah menyangka hubungan itu akan berakhir menjadi tragedi panjang.
Beberapa bulan setelah hubungan tersebut berjalan, komunikasi Y dengan keluarga mulai berkurang. Awalnya masih ada pesan singkat dan kabar sesekali. Namun lambat laun, Y semakin sulit dihubungi. Saat ditanya, ia mengaku sedang dipindahkan untuk bekerja di daerah lain sehingga jarang memiliki waktu untuk berkomunikasi.
Keluarga yang mulai curiga kemudian mencoba mencari informasi ke tempat kerja korban. Dari sanalah mereka mengetahui fakta mengejutkan. Y ternyata sudah mengundurkan diri sejak beberapa bulan sebelumnya. Bahkan surat pengunduran dirinya disebut diantarkan oleh pria yang selama ini dekat dengannya.
Temuan itu membuat keluarga semakin khawatir. Mereka berusaha mencari keberadaan Y melalui berbagai cara, termasuk menyebarkan informasi di media sosial. Namun setiap kali upaya pencarian dilakukan, mereka justru menerima telepon yang diyakini berasal dari Y.
Dalam percakapan tersebut, Y terdengar marah dan meminta keluarganya berhenti mencarinya. Ia bahkan mengancam tidak akan pernah pulang jika keluarganya melibatkan polisi. Saat itu keluarga mengira Y benar-benar memilih menjauh dari mereka. Belakangan mereka menyadari bahwa kemungkinan besar korban berbicara dalam kondisi tertekan dan berada di bawah kendali orang lain.
Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga akhirnya hampir dua tahun tanpa kepastian. Keluarga mengaku sempat putus asa. Mereka mulai berpikir bahwa Y memang tidak ingin kembali dan memilih menjalani hidupnya sendiri.
Namun semuanya berubah ketika ayah korban menerima telepon yang mengabarkan bahwa Y berada di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Tanpa berpikir panjang, keluarga langsung menuju rumah sakit.
Apa yang mereka lihat di sana membuat semua orang terpukul.
Ayah korban disebut sempat pingsan setelah melihat kondisi anaknya. Wajah Y mengalami kerusakan parah. Salah satu matanya hampir tidak berfungsi. Hidungnya terlihat tidak normal. Giginya banyak yang patah. Tubuhnya dipenuhi luka lama yang sudah mengalami infeksi.
Bahkan menurut keterangan keluarga, terdapat luka di kepala yang sudah sangat parah hingga memunculkan infeksi serius. Beberapa bagian tubuh lainnya juga menunjukkan bekas kekerasan yang diduga telah berlangsung dalam waktu lama.
Setelah mulai bisa berkomunikasi, Y perlahan menceritakan apa yang dialaminya. Ia mengaku sering dipukul menggunakan berbagai benda keras. Bagian mata menjadi salah satu sasaran utama kekerasan yang diterimanya. Akibatnya, kemampuan penglihatannya terus menurun hingga hampir hilang sepenuhnya.
Korban juga mengaku mengalami kekerasan seksual selama berada bersama pelaku. Selain itu, hampir seluruh harta bendanya disebut telah dikuasai oleh pria tersebut, mulai dari kendaraan, telepon genggam, hingga penghasilannya selama bekerja.
Menurut pengakuannya, ia beberapa kali mencoba melarikan diri. Namun kondisi fisiknya yang semakin lemah serta gangguan penglihatan membuat upaya itu selalu gagal. Setiap kali mencoba melawan atau meminta pertolongan, ia mengaku mendapat penyiksaan yang lebih berat.
Y juga menceritakan bahwa dirinya kerap berpindah-pindah tempat kos. Pada kos terakhir, beberapa penghuni disebut pernah mendengar suara benturan keras dari dalam kamar. Namun tidak ada yang berani ikut campur karena takut terhadap pelaku yang dikenal sering bersikap kasar dan membawa senjata tajam.
Meski mengalami penderitaan panjang, Y masih menunjukkan keinginan kuat untuk melanjutkan hidup. Saat berbicara dengan keluarganya, ia mengaku ingin bisa melihat kembali dan berharap suatu hari nanti dapat bekerja atau berjualan dari rumah.
Di tengah kondisi fisik yang belum pulih, satu harapan lain yang masih dipegang korban adalah melihat pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Ia ingin orang yang diduga telah menghancurkan hidupnya selama bertahun-tahun itu segera ditangkap dan diproses sesuai aturan yang berlaku.
Kini Y masih menjalani proses pemulihan yang panjang. Keluarga berusaha mendampinginya melewati masa sulit tersebut sambil menunggu proses hukum berjalan. Di sisi lain, dukungan masyarakat terus mengalir setelah kisah tragis yang dialaminya menyita perhatian publik di berbagai platform media sosial. (Red)


