Harga emas dunia (XAU/USD) masih bergerak di area tinggi meski sempat terkoreksi setelah gagal bertahan di atas level US$4.300 pada perdagangan Kamis. Di balik pergerakan tersebut, terdapat sejumlah faktor yang masih menopang prospek kenaikan logam mulia dalam jangka pendek.
Salah satu pemicu utama datang dari meningkatnya harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. Meskipun beberapa pejabat bank sentral AS masih memberikan sinyal waspada terhadap inflasi, data ekonomi terbaru menunjukkan aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja mulai melambat.
Laporan Automatic Data Processing (ADP) mencatat penambahan tenaga kerja sektor swasta Amerika Serikat hanya mencapai 40 ribu pada Juli. Angka tersebut turun tajam dibandingkan 95 ribu pada bulan sebelumnya dan lebih rendah dari perkiraan pasar. Perlambatan ini menjadi sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.
Selain itu, data Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan indeks PMI Jasa naik tipis menjadi 54,1 pada Juli dari 54,0 pada bulan sebelumnya. Meski masih berada di zona ekspansi, hasil tersebut belum mampu memenuhi ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan hingga 54,5.
Rangkaian data ekonomi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Setelah sebelumnya peluang kenaikan suku bunga pada September diperkirakan mencapai sekitar 67 persen, kini turun menjadi sekitar 55 persen. Penurunan ekspektasi ini memberikan dukungan bagi harga emas karena logam mulia cenderung lebih menarik ketika prospek suku bunga tinggi mulai mereda.
Faktor lain yang ikut menopang harga emas berasal dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan masih berlangsung setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang kapal tanker minyak Arab Saudi di dekat Yanbu dan kapal lainnya di Teluk Aden.
Namun di sisi lain, pasar juga mulai melihat peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Iran mengungkapkan bahwa pembahasan bersama Oman terkait pembukaan kembali Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Jika kesepakatan berhasil dicapai, jalur perdagangan energi dunia berpotensi kembali normal sehingga dapat mengurangi tekanan di pasar global.






