Skrol untuk membaca pos

Harga Emas (XAU/USD) Jatuh ke US$4.454 Usai Pernyataan Hawkish Warsh

Muh. Rifai
Foto: Ai
A-AA+A++

Harga emas dunia (XAU/USD) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, setelah komentar hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole mendorong penguatan Dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Pada penutupan pasar, harga emas berada di sekitar US$4.454 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi US$4.629.

Pelemahan emas berlangsung cukup tajam sepanjang perdagangan Jumat. XAU/USD sempat diperdagangkan di sekitar US$4.473 setelah menyentuh US$4.629, sebelum tekanan jual semakin kuat hingga harga akhirnya ditutup di kisaran US$4.454.

Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar mencerna pernyataan Kevin Warsh dalam agenda Jackson Hole. Nada pernyataan Warsh dinilai hawkish karena ia kembali menempatkan inflasi sebagai salah satu perhatian utama kebijakan moneter Amerika Serikat.

Warsh mengatakan dirinya masih melihat inflasi sebagai prioritas. Ia juga mengakui bahwa ukuran inflasi yang mendasari belum menunjukkan perbaikan yang cukup. Menurutnya, Federal Reserve perlu memastikan inflasi benar-benar bergerak kembali menuju target 2%.

“Kita masih punya pekerjaan yang harus dilakukan,” ujar Warsh ketika membahas kondisi inflasi dan sasaran kebijakan The Fed.

Dalam pernyataan yang telah disiapkan, Warsh juga mengakui bahwa kondisi belanja konsumen masih sehat dan pasar tenaga kerja tetap solid. Namun, ketika membahas stabilitas harga, ia menggambarkan perkembangan inflasi sebagai kondisi yang lebih mengkhawatirkan.

Pernyataan tersebut langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed. Pelaku pasar sempat memperhitungkan peluang sekitar 50% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve 16 September.

Pada saat perdagangan berlangsung, peluang tersebut kemudian turun menjadi sekitar 44%. Sementara untuk pertemuan Desember, pelaku pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga sekitar 82% berdasarkan data Prime Terminal.

Perubahan ekspektasi tersebut menjadi tekanan tambahan bagi emas. Logam mulia umumnya sensitif terhadap perubahan suku bunga dan imbal hasil obligasi karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti aset berbunga. Ketika imbal hasil meningkat, daya tarik relatif emas dapat berkurang.

Tekanan juga datang dari penguatan Dolar AS. Indeks Dolar AS atau DXY, yang mengukur nilai Greenback terhadap enam mata uang utama, naik lebih dari 0,60% dan berada di sekitar 99,72.

Penguatan Dolar AS terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil Treasury Amerika Serikat. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun melonjak sekitar 5,5 basis poin menjadi 4,728%.

Kenaikan imbal hasil tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar kembali meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve. Data Prime Market menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 43%, meningkat dari 34% pada hari sebelumnya.

Selain pernyataan dari Warsh, sejumlah data ekonomi Amerika Serikat turut menjadi perhatian pasar. Revisi tahunan Nonfarm Payrolls tercatat sebesar minus 79 ribu, lebih rendah dibandingkan prakiraan minus 183 ribu dan membaik dari revisi sebelumnya yang mencapai minus 911 ribu.

Data tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan dalam estimasi pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat. Sementara itu, Consumer Sentiment Universitas Michigan pada Agustus berada di angka 51,7, sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan 51, tetapi masih memburuk dibandingkan angka pada Juli.

Ekspektasi inflasi rumah tangga Amerika Serikat juga mengalami perubahan. Konsumen memperkirakan inflasi dalam satu tahun ke depan berada di sekitar 4%, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,2%.

Untuk horizon lima tahun ke depan, ekspektasi inflasi tetap berada di 3,3%, sesuai dengan perkiraan sebelumnya.

Dari sisi teknikal, tekanan terhadap XAU/USD membuat harga emas kembali bergerak di bawah level psikologis US$4.500. Pergerakan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya harga emas sempat mendekati Simple Moving Average (SMA) 200 hari di sekitar US$4.527.

Harga yang sempat bergerak di atas area US$4.550 kemudian berbalik turun setelah komentar hawkish Warsh. Pada penutupan Jumat, XAU/USD berada di sekitar US$4.454, sehingga level US$4.500 kini menjadi area resistance awal yang perlu direbut kembali oleh pembeli.

Indikator Relative Strength Index (RSI) masih berada di atas level 50. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa momentum jangka menengah belum sepenuhnya beralih kepada penjual. Namun, RSI yang belakangan bergerak menurun menunjukkan mulai munculnya tekanan jual dalam jangka pendek.

Jika harga emas mampu kembali menembus US$4.500, resistance berikutnya berada di sekitar SMA 200 hari pada US$4.527. Penembusan level tersebut dapat membuka ruang bagi XAU/USD untuk kembali menguji US$4.600.

Di atas US$4.600, perhatian pasar berikutnya tertuju pada level tertinggi harian 27 Agustus di sekitar US$4.643. Jika mampu menembusnya secara tegas, emas berpotensi kembali mengarah ke US$4.700.

Sebaliknya, apabila tekanan jual berlanjut dan XAU/USD semakin jauh berada di bawah US$4.500, risiko penurunan berikutnya terbuka menuju SMA 100 hari di sekitar US$4.374.

Dengan demikian, penutupan di sekitar US$4.454 membuat level US$4.500 menjadi batas teknikal yang cukup menentukan untuk perdagangan berikutnya. Pergerakan Dolar AS, imbal hasil Treasury, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve akan tetap menjadi faktor utama yang diperhatikan pasar emas. (Red)

Berita Terkait

PCE AS Tetap 3,3 Persen, Sinyal Bahaya untuk Harga Emas?
Jadwal NEWS XAU/USD September 2026, Data HIGH Jadi Perhatian
Hasil CPI AS Melandai, The Fed Berpeluang Tahan Bunga
Hawkish The Fed Ancam Tren Naik Harga Emas
NFP Lemah Jadi Bensin Baru Harga Emas (XAU/USD), Sentuh US$4.368
Harga Emas (XAU/USD) Masih Berpeluang Naik, Apa Pemicunya?