Harga emas XAU/USD berpotensi menghadapi tekanan setelah Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack menyampaikan pandangan hawkish mengenai suku bunga AS. Dari sisi teknikal, grafik XAU/USD H1 masih menunjukkan tren naik, tetapi harga mulai kehilangan momentum dan menghadapi area resistance setelah bergerak mendekati level 4.400.
Beth Hammack mengatakan suku bunga Amerika Serikat saat ini belum cukup membatasi aktivitas ekonomi. Menurutnya, perubahan suku bunga sebesar 25 basis poin kemungkinan belum memberikan dampak besar terhadap perekonomian.
“Saya akan mengatakan secara umum; satu perubahan 25 basis poin mungkin tidak banyak berdampak pada perekonomian,” kata Hammack dalam wawancara dengan Yahoo! Finance dikutip dari fxstreet.
Hammack juga mengatakan dirinya belum mendengar dari para pelaku bisnis bahwa tingkat suku bunga saat ini telah membatasi investasi untuk pertumbuhan.
“Saya tidak mendengar bahwa mereka merasakan adanya pembatasan terhadap investasi untuk pertumbuhan berdasarkan level suku bunga saat ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sentimen negatif bagi harga emas karena sikap hawkish The Fed dapat mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga. Jika pasar melihat suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama, dolar AS dan imbal hasil obligasi dapat mendapat dukungan, sementara emas yang tidak memberikan imbal hasil berpotensi kehilangan daya tarik.
Hammack juga menilai The Fed menghadapi risiko apabila terlalu lama menunggu untuk bertindak. Menurutnya, semakin lama bank sentral AS menunggu, semakin lama pula The Fed dapat meleset dari target inflasi 2%.
Tekanan terhadap emas juga datang dari kenaikan harga energi. Tim energi Commerzbank mencatat harapan terhadap kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz mulai memudar.
Iran sebelumnya menyampaikan sejumlah syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz, termasuk tuntutan reparasi. Presiden AS Donald Trump kemudian merespons dengan tuntutan baru terkait pembayaran kompensasi bagi korban konflik.
Ketidakpastian tersebut mendorong harga minyak mentah Brent naik sekitar 5%. Harga Brent berada di hampir USD 90 per barel, level yang terakhir terlihat sejak akhir Juli.









