Skrol untuk membaca pos

BUMI Kembali Terbitkan Obligasi, Target Dana Rp1,83 Triliun

Muh. Rifai
A-AA+A++

“Pinjaman Tranche A dan Tranche B akan dikenakan bunga yang sama dengan masing-masing Obligasi Seri A dan Seri B ditambah margin 0,5 persen,” tulis manajemen Perseroan dalam dokumen tersebut.

Sementara sisa dana akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja Perseroan, seperti pembayaran gaji dan tunjangan karyawan, jasa profesional, pajak, hingga biaya keuangan.

Dari sisi kinerja, Bumi Resources mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba pada kuartal pertama 2026. Pendapatan Perseroan hingga 31 Maret 2026 mencapai USD417,65 juta atau naik 19,75 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD348,77 juta.

Kenaikan pendapatan terutama didorong peningkatan volume penjualan batubara sebesar 37,5 persen dari 4,8 juta ton menjadi 6,6 juta ton. Peningkatan volume penjualan mampu mengimbangi penurunan harga jual rata-rata batubara selama periode berjalan.

Laba tahun berjalan Perseroan hingga akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD41,09 juta, naik 36,66 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD30,06 juta. Peningkatan laba ditopang membaiknya kinerja operasional dan kenaikan pendapatan usaha.

Selain itu, total aset Perseroan hingga 31 Maret 2026 meningkat menjadi USD4,46 miliar dari sebelumnya USD4,21 miliar pada akhir 2025. Ekuitas Perseroan juga naik menjadi USD2,91 miliar.

Manajemen menyebut kenaikan aset terutama berasal dari peningkatan kas dan setara kas, piutang usaha, serta persediaan yang meningkat seiring naiknya produksi batubara. Di sisi lain, total liabilitas Perseroan juga meningkat menjadi USD1,54 miliar akibat kebutuhan modal kerja dan tambahan pinjaman jangka panjang.

Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026 dijadwalkan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 29 Mei 2026. Adapun penjamin pelaksana emisi obligasi dalam penerbitan ini antara lain PT Mandiri Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT BCA Sekuritas, PT Indo Premier Sekuritas, PT Sucor Sekuritas, dan PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia.

Perseroan juga mengingatkan bahwa risiko utama usaha berasal dari fluktuasi harga batubara yang bersifat siklikal. Sementara risiko bagi investor adalah potensi rendahnya likuiditas obligasi di pasar sekunder karena instrumen tersebut lebih banyak dibeli untuk investasi jangka panjang. (Red)

Berita Lainnya

Transisi Bisnis TBS Berbuah Predikat Saham Hijau dari BEI
BUMI Kuasai Loyal Metals Australia, Nilai Akuisisi Tembus Rp1 Triliun
BEI dan Alpaca Siapkan Penjajakan Investasi Lintas Negara
Saham ADHI Disuspensi BEI
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Apa Pemicunya?
ETF Emas Resmi Melantai di BEI, Ini Pilihannya