T TBS Energi Utama Tbk (TBS/TOBA) menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh Penetapan Saham Hijau Transisi (Green Equity Transition) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Predikat tersebut berlaku sejak 28 Agustus 2026 dan diberikan setelah TBS melalui reviu independen oleh S&P Global Ratings.
Penetapan itu menjadi bagian dari peluncuran perdana IDX Green Equity Designation yang melibatkan tiga perusahaan tercatat. TBS menjadi satu-satunya perusahaan yang masuk kategori transisi, yakni perusahaan yang dinilai memiliki arah terukur menuju ekonomi rendah karbon.
Reviu S&P Global Ratings mengacu pada Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) dan Green Equity Principles dari World Federation of Exchanges (WFE). Berdasarkan laporan keuangan FY2025, bisnis non-batu bara TBS menyumbang 47% pendapatan konsolidasi.
“Bagi kami, penetapan ini bukanlah garis akhir, melainkan satu tonggak lagi dalam transformasi yang masih kami jalani,” kata Direktur Utama dan CEO TBS Dicky Yordan memalui siaran pers pada Keterbukaan Informasi BEI, Senin, 7 September 2026.
Menurut Dicky, penetapan tersebut memberikan gambaran yang terukur dan telah direviu secara independen mengenai perkembangan transisi bisnis TBS. Perusahaan juga melihat predikat itu sebagai standar yang harus dipertahankan melalui evaluasi setiap tahun.
S&P Global Ratings menilai 92% komitmen belanja modal TBS untuk periode 2025-2030 masuk kategori kegiatan hijau. Perusahaan juga tidak mengalokasikan belanja modal untuk kegiatan terkait batu bara.
Perubahan bauran bisnis TBS terlihat lebih jelas pada semester I 2026. Pendapatan dari bisnis infrastruktur berkelanjutan mencapai 66,5% pendapatan konsolidasi, sedangkan kontribusi batu bara sebesar 31,4%. Pengelolaan limbah menyumbang 61,2% pendapatan dan 92% EBITDA konsolidasi.
Pada periode tersebut, pendapatan ekosistem kendaraan listrik juga hampir tiga kali lipat secara tahunan. Laba kotor konsolidasi lebih dari dua kali lipat menjadi US$28,2 juta, sementara arus kas operasi berbalik positif menjadi US$14,6 juta dari sebelumnya negatif US$31,6 juta.
Direktur Pengembangan Usaha BEI Iding Pardi mengatakan IDX Green Equity Designation diharapkan mendorong lebih banyak perusahaan tercatat memperkuat praktik keberlanjutan dan menyediakan informasi yang lebih kredibel bagi investor.
Secara global, penetapan saham berbasis hijau masih relatif terbatas. Kurang dari 20 perusahaan tercatat di dunia memiliki penetapan serupa. BEI juga menegaskan bahwa IDX Green Equity Designation bukan pemeringkatan atau rekomendasi investasi, serta bukan jaminan atas kinerja keuangan maupun tingkat pengembalian saham. (Red)







