Keterbukaan informasi menjadi salah satu faktor yang semakin diperhatikan investor saat berinvestasi di pasar modal. Menjawab kebutuhan tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menghadirkan berbagai langkah untuk memudahkan publik memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai perusahaan tercatat. Salah satu upaya terbaru dilakukan melalui penyelenggaraan Public Expose Live 2026 sekaligus peluncuran sejumlah halaman informasi baru yang dapat diakses investor melalui situs resmi BEI.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi BEI bersama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam membangun pasar modal yang lebih transparan, terbuka, dan mudah dipahami oleh masyarakat luas. Di tengah meningkatnya jumlah investor ritel di Indonesia, ketersediaan informasi yang akurat dan mudah diakses dinilai semakin penting untuk mendukung keputusan investasi yang lebih bijak.
Public Expose Live 2026 yang berlangsung secara virtual pada 9 hingga 11 Juni 2026 menjadi salah satu sarana yang mempertemukan perusahaan tercatat dengan investor. Melalui agenda tahunan tersebut, emiten berkesempatan menyampaikan perkembangan bisnis, strategi perusahaan, hingga prospek usaha kepada publik secara langsung.
Namun menariknya, fokus BEI tahun ini tidak hanya pada penyelenggaraan public expose. Bursa juga memperkuat akses informasi melalui penyediaan berbagai data yang sebelumnya tidak mudah ditemukan dalam satu tempat. Investor kini dapat melihat informasi kepemilikan saham perusahaan tercatat, data free float, hingga daftar saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Kehadiran fitur tersebut memberikan nilai tambah bagi investor yang ingin melakukan analisis lebih mendalam sebelum membeli saham. Selama ini, banyak investor ritel hanya berfokus pada laporan keuangan atau pergerakan harga saham. Padahal, struktur kepemilikan saham juga dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi likuiditas dan karakteristik perdagangan suatu saham.
Data free float misalnya, dapat membantu investor memahami seberapa besar porsi saham yang beredar di publik. Semakin besar free float suatu emiten, umumnya semakin tinggi pula potensi likuiditas saham tersebut di pasar. Sebaliknya, saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi sering kali memiliki pergerakan harga yang lebih sensitif karena jumlah saham yang beredar di publik relatif terbatas.







