PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali melanjutkan aksi pendanaan melalui pasar modal dengan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026 senilai Rp1,839 triliun. Dana hasil penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja Perseroan dan anak usaha, termasuk mendukung operasional PT Arutmin Indonesia.

Berdasarkan dokumen tambahan informasi yang diterbitkan Perseroan pada 21 Mei 2026, obligasi ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I BUMI dengan target penghimpunan dana sebesar Rp5 triliun. Sebelumnya, Perseroan telah menerbitkan obligasi tahap I hingga tahap IV dengan total nilai mencapai lebih dari Rp2,46 triliun.

Dalam penerbitan tahap V ini, obligasi ditawarkan dalam tiga seri. Seri A memiliki nilai Rp600,04 miliar dengan bunga tetap 7,50 persen per tahun dan tenor 370 hari kalender. Seri B ditawarkan sebesar Rp905,97 miliar dengan bunga 8,75 persen per tahun dan jangka waktu tiga tahun. Sementara Seri C memiliki nilai Rp333,86 miliar dengan bunga tetap 9,05 persen per tahun dan tenor lima tahun.

Pembayaran bunga dilakukan setiap tiga bulan sejak tanggal emisi. Pembayaran bunga pertama dijadwalkan pada 26 Agustus 2026, sedangkan pelunasan pokok obligasi dilakukan penuh saat jatuh tempo masing-masing seri.

Dalam dokumen tersebut disebutkan obligasi tidak dijamin dengan agunan khusus, namun dijamin dengan seluruh harta kekayaan Perseroan sesuai ketentuan Pasal 1131 dan 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Hak pemegang obligasi bersifat pari passu atau setara dengan kreditur lainnya.

Perseroan juga memperoleh peringkat idA+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Peringkat tersebut berlaku untuk periode 1 Desember 2025 hingga 1 Desember 2026. Peringkat idA+ menunjukkan kemampuan Perseroan yang kuat dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka panjang, meski tetap sensitif terhadap perubahan kondisi bisnis dan ekonomi.

Dalam keterbukaan informasi itu, Bumi Resources menyebut sekitar Rp1,506 triliun dana hasil obligasi akan digunakan untuk memberikan pinjaman kepada anak usaha, PT Arutmin Indonesia. Dana tersebut dipakai untuk kebutuhan modal kerja dan operasional harian Arutmin, termasuk biaya produksi dan kegiatan penambangan.

“Pinjaman Tranche A dan Tranche B akan dikenakan bunga yang sama dengan masing-masing Obligasi Seri A dan Seri B ditambah margin 0,5 persen,” tulis manajemen Perseroan dalam dokumen tersebut.

Sementara sisa dana akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja Perseroan, seperti pembayaran gaji dan tunjangan karyawan, jasa profesional, pajak, hingga biaya keuangan.

Dari sisi kinerja, Bumi Resources mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba pada kuartal pertama 2026. Pendapatan Perseroan hingga 31 Maret 2026 mencapai USD417,65 juta atau naik 19,75 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD348,77 juta.

Kenaikan pendapatan terutama didorong peningkatan volume penjualan batubara sebesar 37,5 persen dari 4,8 juta ton menjadi 6,6 juta ton. Peningkatan volume penjualan mampu mengimbangi penurunan harga jual rata-rata batubara selama periode berjalan.

Laba tahun berjalan Perseroan hingga akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD41,09 juta, naik 36,66 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD30,06 juta. Peningkatan laba ditopang membaiknya kinerja operasional dan kenaikan pendapatan usaha.

Selain itu, total aset Perseroan hingga 31 Maret 2026 meningkat menjadi USD4,46 miliar dari sebelumnya USD4,21 miliar pada akhir 2025. Ekuitas Perseroan juga naik menjadi USD2,91 miliar.

Manajemen menyebut kenaikan aset terutama berasal dari peningkatan kas dan setara kas, piutang usaha, serta persediaan yang meningkat seiring naiknya produksi batubara. Di sisi lain, total liabilitas Perseroan juga meningkat menjadi USD1,54 miliar akibat kebutuhan modal kerja dan tambahan pinjaman jangka panjang.

Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap V Tahun 2026 dijadwalkan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 29 Mei 2026. Adapun penjamin pelaksana emisi obligasi dalam penerbitan ini antara lain PT Mandiri Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT BCA Sekuritas, PT Indo Premier Sekuritas, PT Sucor Sekuritas, dan PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia.

Perseroan juga mengingatkan bahwa risiko utama usaha berasal dari fluktuasi harga batubara yang bersifat siklikal. Sementara risiko bagi investor adalah potensi rendahnya likuiditas obligasi di pasar sekunder karena instrumen tersebut lebih banyak dibeli untuk investasi jangka panjang. (Red)