Kinerja penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai juga mulai membaik setelah sempat mengalami tekanan pada Maret lalu. Pemerintah mencatat penerimaan Bea dan Cukai tumbuh positif 0,6 persen secara tahunan.
Di sisi belanja negara, pemerintah memilih mempertahankan akselerasi stimulus fiskal untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Hingga April 2026, realisasi belanja negara telah mencapai Rp1.000 triliun atau melonjak 34,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh percepatan Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) yang tumbuh hingga 57,9 persen. Pemerintah menilai percepatan belanja diperlukan agar efek pengganda ekonomi bisa dirasakan lebih cepat oleh masyarakat dan dunia usaha.
Purbaya mengatakan pemerintah tidak ingin menahan belanja di tengah situasi global yang belum stabil. Karena itu, berbagai program perlindungan sosial dan subsidi tetap dipertahankan, termasuk subsidi energi dan BBM hingga akhir tahun.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga dan mengurangi tekanan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah maupun kelas menengah.
“Pemerintah memastikan subsidi energi tetap berjalan untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Kombinasi antara peningkatan penerimaan negara dan pengelolaan belanja yang lebih terukur turut memperbaiki kondisi fiskal nasional. Hingga April 2026, defisit APBN tercatat turun menjadi Rp164,4 triliun atau setara 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut membaik dibandingkan posisi Maret 2026 yang sempat mencapai 0,93 persen dari PDB. Purbaya juga menanggapi proyeksi sejumlah analis yang sebelumnya memperkirakan defisit APBN bisa melebar tajam apabila tren Maret berlanjut hingga akhir tahun.
Menurutnya, pendekatan hitung linier terhadap defisit tidak mencerminkan kondisi fiskal yang sebenarnya.
“Maret kemarin defisit 0,93 persen, analis bilang kalau dikali empat setahun bisa 3,6 persen, itu hitungan ajaib. Sekarang defisit turun ke 0,64 persen,” kata Purbaya.
Pemerintah juga memastikan koordinasi dengan bank sentral terus diperkuat untuk menjaga likuiditas sistem keuangan dan mendukung pembiayaan sektor riil. Langkah itu dinilai penting agar dunia usaha tetap memiliki ruang ekspansi di tengah ketidakpastian global.
Memasuki triwulan kedua 2026, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi nasional akan semakin menguat. Salah satu strategi yang disiapkan ialah peluncuran tambahan insentif kendaraan listrik, baik mobil maupun motor listrik, pada periode April hingga Juni 2026.








