Pendapatan Negara Tembus Rp1.185 Triliun Hingga Mei 2026
Perekonomian Indonesia menunjukkan tanda-tanda penguatan pada pertengahan 2026. Di tengah kondisi global yang mulai lebih tenang, aktivitas ekonomi dalam negeri terus bergerak positif. Salah satu sinyal terkuat datang dari lonjakan pendapatan negara, khususnya dari sektor pajak yang tumbuh lebih dari 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Juni 2026 yang memaparkan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026.
Menurut Purbaya, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang semakin membaik. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi pada Mei 2026. Artinya, aktivitas produksi industri mulai meningkat setelah sebelumnya sempat mengalami perlambatan.
Di saat yang sama, konsumsi masyarakat juga tetap terjaga. Hal itu terlihat dari meningkatnya indeks belanja masyarakat, penjualan kendaraan bermotor, hingga konsumsi semen yang mencerminkan aktivitas ekonomi dan pembangunan yang masih berjalan.
“Ini menunjukkan domestic demand yang kuat dan juga menggambarkan daya beli masyarakat yang masih kuat,” kata Purbaya melansir laman Kemenkeu.
Kuatnya konsumsi masyarakat tersebut ikut mendorong penerimaan negara. Hingga akhir Mei 2026, pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penyumbang terbesar berasal dari penerimaan perpajakan yang melonjak 22,1 persen. Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga tumbuh 19,9 persen.
“Yang paling menarik adalah pendapatan pajak naik 22,1 persen. Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak dibandingkan dengan kondisi tahun lalu,” ujar Menteri Keuangan.
Kenaikan penerimaan pajak umumnya mencerminkan aktivitas ekonomi yang lebih tinggi. Saat dunia usaha berkembang dan transaksi ekonomi meningkat, penerimaan pajak pemerintah juga ikut terdongkrak.
Dari sektor eksternal, kinerja ekonomi Indonesia juga masih menunjukkan ketahanan. Neraca perdagangan kembali mencatat surplus dan kini telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut. Selain itu, arus modal asing kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia pada triwulan II 2026.
Masuknya dana asing tersebut menunjukkan bahwa investor masih melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, tingkat inflasi hingga Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran pemerintah dan Bank Indonesia sehingga stabilitas harga relatif tetap terjaga.
Di sisi belanja, pemerintah telah merealisasikan pengeluaran sebesar Rp1.365,4 triliun atau meningkat 34,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Belanja tersebut digunakan untuk mendukung berbagai program prioritas, mulai dari menjaga daya beli masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan layanan publik, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi.
Purbaya mengatakan percepatan belanja negara sengaja dilakukan agar dampak APBN dapat dirasakan lebih cepat oleh masyarakat dan dunia usaha.
Meski belanja meningkat cukup besar, kondisi fiskal pemerintah masih terjaga. Hingga akhir Mei 2026, defisit APBN tercatat sebesar 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), masih jauh di bawah batas yang ditetapkan undang-undang.
Kabar baik lainnya datang dari keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus sebesar Rp58,6 triliun. Posisi ini menunjukkan kemampuan fiskal pemerintah semakin membaik dalam membiayai kebutuhan anggaran negara.
“Surplus keseimbangan primer sekarang Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” ungkap Purbaya.
Pemerintah memastikan akan terus menjaga kesehatan APBN agar tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus menghadapi berbagai risiko global yang masih mungkin terjadi ke depan.
“Ke depan, pemerintah akan terus menjaga APBN tetap sehat, prudent, adaptif, dan kredibel guna memperkuat stabilitas, menjaga momentum pertumbuhan, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (Red)


