Kepercayaan investor terhadap Indonesia kembali mendapat dorongan setelah kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Semester I 2026 menunjukkan hasil yang positif. Tidak hanya mencatat pertumbuhan pendapatan yang tinggi, pengelolaan fiskal pemerintah juga berhasil menjaga defisit tetap rendah. Kondisi ini menjadi salah satu alasan lembaga pemeringkat internasional mempertahankan bahkan memberikan penilaian terbaik bagi Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, pendapatan negara hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp1.459,4 triliun atau tumbuh 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp1.656 triliun atau naik 17,8 persen secara tahunan.

Meski pemerintah tetap menjalankan belanja yang cukup besar untuk mendukung berbagai program prioritas, kondisi APBN masih berada di jalur yang sehat. Defisit anggaran tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau hanya 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, pemerintah juga membukukan surplus keseimbangan primer sebesar Rp85,1 triliun.

Dari sisi fiskal, angka-angka tersebut menunjukkan pemerintah masih memiliki ruang yang cukup untuk membiayai pembangunan tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap kondisi keuangan negara. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar.

“Dengan pendapatan yang tumbuh kuat, belanja yang produktif, dan pembiayaan yang dikelola secara terukur, defisit APBN tetap terkendali sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari PDB, disertai surplus keseimbangan primer sebesar Rp85,1 triliun,” kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTA Edisi Juli 2026.

Kinerja APBN tersebut kemudian mendapat pengakuan dari Standard & Poor’s (S&P). Lembaga pemeringkat global itu mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.

Bagi investor, keputusan ini menjadi sinyal bahwa kondisi fiskal Indonesia masih dinilai aman dan mampu menghadapi tantangan ekonomi global. Peringkat kredit yang stabil juga dapat membantu pemerintah memperoleh pembiayaan dengan biaya yang lebih kompetitif saat menerbitkan surat utang.

“APBN-nya bagus, ekspansif, dan mendukung pembangunan. Ini juga alasan mengapa S&P mempertahankan peringkat kita di BBB dengan outlook stabil,” ujar Purbaya.

Tidak hanya dari S&P, Indonesia juga memperoleh kabar positif dari Lianhe Credit Rating, lembaga pemeringkat asal China. Lembaga tersebut memberikan peringkat AAA dengan outlook stabil untuk rencana penerbitan Panda Bond pemerintah Indonesia.

Peringkat AAA merupakan level tertinggi dalam sistem penilaian Lianhe Credit Rating. Penilaian tersebut membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menjangkau investor di pasar keuangan China yang memiliki kapasitas pendanaan sangat besar.

Menurut Purbaya, langkah ini menjadi strategi penting untuk memperluas sumber pembiayaan negara tanpa hanya bergantung pada pasar domestik maupun investor tradisional.

“Kita keluar report-nya memberikan rating AAA stable. Jadi AAA itu yang paling tinggi. Di China peringkat utang kita itu yang mentok atas. Ini penting sekali untuk kita karena China merupakan pasar yang besar untuk surat utang,” jelasnya.

Lianhe Credit Rating menilai Indonesia memiliki sejumlah indikator ekonomi yang kuat. Di antaranya pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, fundamental ekonomi yang stabil, ketahanan menghadapi gejolak eksternal, utang luar negeri yang relatif rendah, kapasitas pembayaran yang baik, cadangan devisa yang memadai, serta rasio utang pemerintah yang masih berada dalam batas aman.

“Utang luar negeri kita relatif rendah, kapasitas pembayarannya cukup, devisanya juga cukup. Rasio utang pemerintah juga tetap pruden,” kata Purbaya.

Dari perkembangan tersebut terlihat bahwa pengelolaan APBN bukan hanya berfungsi membiayai program pemerintah, tetapi juga menjadi faktor yang ikut menentukan penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap Indonesia. Saat kepercayaan lembaga pemeringkat tetap terjaga, peluang pemerintah memperoleh akses pendanaan dengan biaya yang lebih efisien juga semakin terbuka. ***