Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih berada di jalur yang kuat di tengah derasnya isu pelemahan daya beli masyarakat dan tekanan ekonomi global. Dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Selasa (19/5), pemerintah memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April 2026 yang menunjukkan lonjakan pendapatan negara sekaligus perbaikan defisit fiskal.
Pernyataan tersebut muncul ketika isu penurunan konsumsi rumah tangga dan melambatnya belanja masyarakat ramai diperbincangkan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, menurut Purbaya, data penerimaan pajak justru menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat masih tumbuh cukup kuat.
“Hari ini kita menyampaikan lagi realisasi APBN kita, kinerja dan fakta, sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara,” ujar Purbaya dalam pemaparannya.
Hingga akhir April 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp918,4 triliun atau tumbuh 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh penerimaan perpajakan yang tumbuh 13,7 persen secara tahunan.
Penerimaan pajak bahkan meningkat 16,1 persen year-on-year. Pemerintah mencatat lonjakan signifikan pada beberapa komponen utama, mulai dari Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi yang naik 25 persen, PPh 21 atau pajak gaji karyawan tumbuh 21 persen, hingga PPN dan PPN-BM yang melonjak 40 persen.
Menurut Purbaya, pertumbuhan PPh 21 menjadi indikator penting bahwa aktivitas tenaga kerja dan pendapatan masyarakat masih terjaga. Ia secara terbuka membantah anggapan bahwa masyarakat sedang mengalami tekanan konsumsi berat.
“PPh 21 tumbuh 21 persen. Ini data yang bicara, bukan perasaan saya. Jadi tidak benar bahwa daya beli masyarakat hancur,” tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi respons pemerintah terhadap kekhawatiran publik mengenai kondisi ekonomi domestik di tengah gejolak global, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian pasar dan tekanan harga energi dunia.
Selain sektor perpajakan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, realisasi PNBP mencapai Rp171,3 triliun atau tumbuh 11,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.








