Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berpotensi lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini dipicu dinamika iklim global, termasuk peluang munculnya fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif yang dapat menurunkan curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Pembahasan Perkembangan Kondisi Iklim Indonesia Tahun 2026 bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di Gedung Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) BMKG, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Rapat tersebut dihadiri Sekretaris Utama BMKG Guswanto, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto, serta sejumlah pejabat dari Kementerian PPN/Bappenas.
Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan potensi musim kemarau tahun ini perlu diantisipasi lebih awal karena dapat berdampak pada berbagai sektor, mulai dari pangan, sumber daya air, hingga peningkatan ancaman karhutla di sejumlah daerah.
“Dalam menghadapi musim kemarau tahun ini, upaya antisipasi harus dilakukan sejak awal, termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan informasi peringatan dini tersampaikan hingga tingkat daerah,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan El Nino dan IOD positif menjadi perhatian serius karena berpotensi mengurangi intensitas hujan di beberapa wilayah Indonesia. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam periode panjang, risiko kekeringan meteorologis diperkirakan meningkat.
BMKG mencatat sejumlah wilayah mulai memasuki kondisi lebih mudah terbakar, terutama di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Meski titik panas atau hotspot pada periode 11–17 Mei 2026 masih relatif rendah dan terkendali, kewaspadaan tetap diperketat untuk mencegah meluasnya karhutla saat puncak kemarau nanti.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa pada periode 18–24 Mei 2026 sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang. Namun, kondisi tersebut diperkirakan akan berangsur berkurang seiring memasuki musim kemarau.
Beberapa wilayah seperti Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan juga diminta mewaspadai potensi hujan lebat dalam masa transisi musim.







