Red Sea Film Foundation memberikan penghargaan kepada enam perempuan berpengaruh di industri perfilman dunia dalam ajang Gala Women in Cinema yang digelar di sela Festival Film Cannes ke-79 di Prancis. Salah satu nama yang mendapat sorotan adalah sineas Indonesia, Kamila Andini.

Acara bergengsi tersebut berlangsung di Hotel du Cap-Eden-Roc, Cap d’Antibes, Prancis, pada 15 Mei 2026. Gala ini menjadi bagian dari komitmen Red Sea Film Foundation dalam mendukung talenta perempuan yang berkembang di industri perfilman Dunia Arab, Afrika, dan Asia, baik di depan maupun di belakang layar.

Tahun ini, penghargaan Women in Cinema Spotlight diberikan kepada enam perempuan dari berbagai negara, yakni Kamila Andini dari Indonesia, Marie-Clementine Dusabejambo dari Rwanda, Aixa Kay dari Arab Saudi, Laïla Marrakchi dari Maroko, Genevieve Nnaji dari Nigeria, dan Tara Sutaria dari India. Edisi kali ini juga mencatat sejarah dengan hadirnya tiga penerima penghargaan dari benua Afrika dalam satu tahun penyelenggaraan.

Ketua Red Sea Film Foundation, Jomana Al-Rashid, mengatakan pihaknya terus berkomitmen mendukung pembuat film perempuan di berbagai tahap karier mereka. Mulai dari pengembangan proyek awal hingga membawa karya mereka tampil di panggung internasional seperti Festival Film Cannes.

“Para perempuan luar biasa yang kami soroti tahun ini masing-masing membawa perspektif kreatif yang berbeda yang memperkaya sinema di seluruh dunia Arab, Afrika, dan Asia,” ujar Jomana Al-Rashid dalam pernyataannya melansir laman Read Sea Film.

Selain para penerima penghargaan, acara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh perfilman dan hiburan dunia. Nama-nama seperti Demi Moore, Alicia Vikander, Chloe Zhao, Diane Kruger, Rami Malek, Alex Pettyfer, hingga aktris Indonesia Raline Shah turut menghadiri malam penghargaan tersebut.

Diane Kruger yang sebelumnya menerima Penghargaan Yusr di Red Sea International Film Festival 2022 juga menyampaikan apresiasi kepada yayasan atas dukungannya terhadap perempuan di industri hiburan global. Ia menilai organisasi seperti RSIFF memiliki peran besar dalam membuka ruang bagi kisah-kisah perempuan untuk mendapat perhatian lebih luas.

Kamila Andini sendiri dikenal sebagai salah satu sutradara perempuan paling berpengaruh di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Pembuat film independen yang berbasis di Jakarta itu memulai perhatian dunia internasional lewat film debutnya The Mirror Never Lies yang meraih berbagai penghargaan nasional maupun internasional.

Film tersebut membuat Kamila memperoleh nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2011 sebelum memenangkan kategori serupa di Festival Film Bandung 2012. Karyanya kemudian terus mendapat pengakuan melalui film The Seen and Unseen yang memenangkan penghargaan Film Fiksi Terbaik di Festival Film Adelaide.

Namanya semakin dikenal di kancah internasional melalui film Yuni yang tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto dan berhasil memenangkan penghargaan Platform Prize. Setelah itu, film Before, Now & Then juga diputar perdana di Festival Film Internasional Berlin.

Pada 2023, Kamila memperluas kiprahnya ke industri serial televisi melalui serial original Netflix berjudul “Cigarette Girl”. Serial tersebut mendapat perhatian luas dan memperlihatkan kemampuannya dalam menghadirkan cerita yang kuat dengan pendekatan sinematik khas.

Sementara itu, Marie-Clementine Dusabejambo dari Rwanda juga mendapat perhatian berkat kiprahnya sebagai pembuat film yang aktif mengangkat isu sosial melalui karya-karyanya. Film pendek pertamanya LYIZA diputar perdana di Festival Film Tribeca dan meraih penghargaan Tanit Bronze di Festival Film Carthage.

Film panjang pertamanya, Ben’Imana, bahkan terpilih dalam program Un Certain Regard di Festival Film Cannes 2026. Pencapaian tersebut mempertegas posisinya sebagai salah satu sineas perempuan Afrika yang tengah naik daun.

Aixa Kay dari Arab Saudi juga dinilai berhasil menghadirkan kontribusi penting di industri hiburan regional. Selain berkarier sebagai aktris, ia juga aktif sebagai penulis dan tengah mengembangkan serial “Mother Afraa” melalui program SeriesLab dari Red Sea Labs.

Di sisi lain, sineas Maroko Laïla Marrakchi dikenal lewat film Marock yang pernah tampil di program Un Certain Regard Cannes pada 2005. Ia juga menyutradarai beberapa produksi internasional termasuk serial “The Eddy” karya Damien Chazelle untuk Netflix.

Sementara Genevieve Nnaji dianggap sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan industri Nollywood Nigeria. Film debut penyutradaraannya Lionheart menjadi film Nigeria pertama yang diakuisisi Netflix dan mewakili Nigeria di Academy Awards.

Aktris India Tara Sutaria turut mendapat penghargaan berkat kiprahnya di dunia film, musik, dan teater. Setelah dikenal lewat Student of the Year 2, Tara terus aktif membintangi berbagai proyek perfilman India, termasuk film Apurva dan proyek terbarunya Toxic yang dijadwalkan rilis global pada 2026.

CEO Red Sea Film Foundation, Faisal Baltyuor, menyebut pihaknya merasa terhormat dapat merayakan perempuan-perempuan inspiratif di Cannes tahun ini. Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan yayasan dalam mendukung pembuat film perempuan dari kawasan Arab, Afrika, dan Asia.

Festival Film Internasional Laut Merah sendiri akan memasuki edisi keenam pada tahun ini. Sejak pertama kali digelar, festival tersebut telah menampilkan lebih dari 520 film dari 85 negara dan menghadirkan lebih dari 130 film asal Arab Saudi.

Edisi berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 3 hingga 12 Desember 2026 di kawasan bersejarah Al Balad, Jeddah, Arab Saudi. (Red)