Lonjakan Harga Minyak Ancam Fiskal, Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Tetap Aman
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memastikan kondisi fiskal Indonesia tetap aman di tengah lonjakan harga minyak dunia dan ketidakpastian ekonomi global. Pemerintah, kata dia, tetap menjaga disiplin fiskal sambil mempertahankan harga BBM subsidi agar daya beli masyarakat tidak terganggu.
Dalam diskusi POV Talks di Jakarta, Senin (18/5), Juda mengungkapkan setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel berdampak pada tambahan defisit fiskal sekitar Rp6,8 triliun. Meski beban anggaran meningkat, pemerintah memilih melakukan efisiensi belanja ketimbang menaikkan harga BBM subsidi.
“Strategi kita adalah menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, namun tetap dengan disiplin fiskal,” ujar Juda Agung melansir laman Kemenkeu.
Pemerintah juga memastikan defisit APBN tetap terkendali di level 2,94 persen atau masih di bawah batas aman 3 persen terhadap PDB. Untuk menjaga stabilitas, pemerintah mengandalkan efisiensi belanja non-prioritas dan fokus pada program produktif seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta hilirisasi industri.
Selain itu, Juda menyebut Indonesia masih memiliki bantalan fiskal kuat melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun yang dapat digunakan untuk menghadapi kondisi darurat maupun gejolak ekonomi.
Ia menegaskan situasi ekonomi saat ini berbeda jauh dibanding krisis 1998 karena sektor perbankan lebih kuat dan pengawasan terhadap utang korporasi semakin ketat. (Red)
