Swatch Bikin Heboh, Jam Saku Royal Pop Diserbu Pembeli Hingga Tutup Toko
Swatch menutup sejumlah tokonya lebih awal pada Sabtu setelah peluncuran koleksi Bioceramic Royal Pop hasil kolaborasi dengan merek jam tangan mewah Audemars Piguet memicu antrean panjang dan kerumunan besar di beberapa lokasi penjualan. Salah satu toko yang ditutup berada di pusat perbelanjaan Valley Fair, San Jose, California.
Penutupan dilakukan karena tingginya jumlah pengunjung yang datang untuk membeli jam saku edisi terbatas tersebut. Banyak pelanggan sudah mengantre sejak sebelum toko dibuka pada Sabtu pagi. Situasi di lokasi disebut semakin ramai hingga pihak toko memutuskan menghentikan operasional lebih awal demi alasan keamanan.
Dalam unggahan di Instagram resminya, Swatch menyebut penutupan sementara dilakukan karena “pertimbangan keselamatan publik” akibat lonjakan permintaan terhadap koleksi terbaru mereka. Meski toko sudah ditutup, antrean pembeli masih terlihat mengular di sekitar lokasi hingga sekitar pukul 13.30 waktu setempat.
Kepolisian San Jose membenarkan bahwa petugas sempat membantu mengatur keramaian di area mal. Namun, polisi memastikan tidak ada laporan tindakan kekerasan atau insiden serius selama antrean berlangsung.
Mengutip WSJ, peluncuran koleksi Bioceramic Royal Pop memang sudah menarik perhatian sejak diumumkan awal pekan lalu. Banyak penggemar jam tangan memperkirakan Swatch dan Audemars Piguet akan menghadirkan versi terjangkau dari desain legendaris Royal Oak yang selama ini identik dengan harga premium.
Spekulasi tersebut berkembang luas di media sosial dan forum kolektor jam tangan. Sebagian penggemar berharap kolaborasi itu menghadirkan reinterpretasi modern dari Royal Oak dalam format yang lebih mudah dijangkau konsumen umum.
Namun, produk yang diperkenalkan justru berbeda dari ekspektasi publik. Swatch dan Audemars Piguet meluncurkan jam saku bernama Royal Pop dengan desain penuh warna pelangi dan dilengkapi tali gantungan. Produk itu diperkenalkan pada Selasa lalu dan mulai dipasarkan secara resmi pada Sabtu.
Jam saku Royal Pop dijual mulai dari harga 400 dolar AS. Sementara versi yang dilengkapi sub-dial detik dipasarkan seharga 420 dolar AS. Desain unik dan warna mencolok membuat produk tersebut menuai perdebatan di kalangan penggemar jam tangan.
Sebagian kolektor menilai desain Royal Pop terlalu berbeda dari karakter klasik Audemars Piguet, sementara lainnya menganggap pendekatan Swatch justru berhasil menghadirkan konsep yang lebih segar dan berani.
Terlepas dari pro dan kontra tersebut, antusiasme pasar tetap tinggi. Sejumlah pembeli bahkan dikabarkan rela mengantre selama berhari-hari sebelum peluncuran resmi demi mendapatkan produk edisi terbatas itu.
Perwakilan dari Swatch maupun Audemars Piguet menolak memberikan wawancara terkait situasi di toko maupun respons publik terhadap desain Royal Pop.
Dalam beberapa tahun terakhir, Swatch memang dikenal sukses menciptakan tren melalui kolaborasi dengan berbagai merek jam tangan mewah Swiss. Sebelumnya, Swatch meluncurkan koleksi bersama Omega dan Blancpain yang juga menarik perhatian besar dari kolektor global.
Kolaborasi tersebut menghadirkan versi jam tangan ikonik dari merek mewah dengan material Bioceramic khas Swatch yang ringan dan berwarna-warni. Harga yang relatif lebih terjangkau membuat produk-produk itu diminati tidak hanya oleh kolektor lama, tetapi juga pembeli baru yang ingin masuk ke dunia horologi.
Fenomena itu juga menciptakan pasar jual kembali yang cukup besar. Beberapa model kolaborasi Swatch sebelumnya tercatat dijual kembali secara online dengan harga mendekati 1.000 dolar AS, jauh di atas harga ritel awal.
Analis industri menilai strategi kolaborasi antara merek premium dan produk massal menjadi salah satu cara efektif untuk memperluas pasar sekaligus menjaga eksklusivitas produk melalui sistem edisi terbatas.
Kehebohan yang terjadi saat peluncuran Royal Pop kembali menunjukkan kuatnya daya tarik produk kolaborasi di industri jam tangan global. Meski desainnya memicu perdebatan, minat konsumen terhadap koleksi terbatas tetap tinggi dan mampu menciptakan antrean panjang di berbagai toko. (Rfi)
