Skrol untuk membaca pos

Kendaraan Hybrid Tumbuh 40 Persen, Industri Otomotif Indonesia Bersiap

Muh. Rifai
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto membahas perkembangan kendaraan hybrid, kendaraan listrik, dan transformasi transportasi rendah emisi dalam The Big Idea Forum (TBIF) - Indonesia Zero Emission Heavy-duty Vehicle Summit 2026 di Jakarta, Rabu (26/08). Foto: Arsip Kementerian Ekonomi
A-AA+A++

Pertumbuhan kendaraan hybrid di Indonesia mencapai sekitar 40 persen pada Semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari perubahan pilihan masyarakat sekaligus peluang untuk memperkuat industri otomotif dan ekosistem kendaraan rendah emisi di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, penggunaan kendaraan berbasis listrik terus berkembang seiring pertimbangan masyarakat terhadap biaya energi. Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mengikuti perubahan harga turut membuat kendaraan listrik dan hybrid menjadi salah satu pilihan untuk menghemat biaya penggunaan kendaraan.

“Dengan harga BBM nonsubsidi ikut fluktuasi harga, maka masyarakat juga melihat bahwa penggunaan electric vehicle (EV) itu akan menghemat biaya. Maka di Semester satu ini peningkatan pertumbuhan daripada kendaraan yang berbasis pada hybrid itu 40 persen dibandingkan tahun lalu. Jadi ini sebuah angka yang sangat baik, berarti masyarakat sudah ada kesadaran untuk menggunakan tenaga listrik,” ungkap Airlangga dalam acara The Big Idea Forum (TBIF) – Indonesia Zero Emission Heavy-duty Vehicle Summit 2026 di Jakarta, Rabu (26/08).

Pertumbuhan kendaraan hybrid tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pasar otomotif Indonesia mulai bergerak menuju teknologi kendaraan yang lebih rendah emisi. Hybrid menjadi salah satu pilihan dalam masa peralihan sebelum penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai semakin luas.

Pemerintah tidak hanya melihat perubahan tersebut dari sisi penggunaan kendaraan. Perkembangan kendaraan rendah emisi juga diarahkan untuk memperkuat industri otomotif nasional. Ekosistem produksi kendaraan, baterai, dan komponen dalam negeri terus dikembangkan agar peningkatan permintaan kendaraan baru dapat memberikan manfaat bagi sektor industri.

Penguatan industri otomotif menjadi bagian dari strategi pemerintah karena sektor industri memiliki kontribusi sekitar 18–19 persen terhadap perekonomian nasional. Industri otomotif juga memiliki efek berganda (multiplier effect) karena melibatkan banyak sektor, termasuk industri komponen, energi, logistik, hingga berbagai jasa pendukung.

Pemerintah kemudian melakukan penyesuaian fasilitas dukungan untuk memperkuat ekosistem Mobil Nasional dan Motor Listrik Nasional. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kandungan dan nilai tambah produk di dalam negeri.