Danantara Indonesia bersama Arm resmi memulai gelombang pertama program pelatihan semikonduktor di Jakarta, Selasa 20 Mei 2026. Program yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian itu menjadi langkah awal pengembangan hingga 15.000 talenta desain chip di Indonesia.

Pelatihan intensif tersebut berlangsung selama tiga hari pada 20–22 Mei 2026 di Menara Mandiri, Jakarta. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari kerja sama strategis antara Danantara Indonesia dan Arm yang ditandatangani di London pada 23 Februari 2026 lalu. Penandatanganan kerja sama itu turut disaksikan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan CEO Arm Rene Haas.

Program pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan Indonesia di bidang semikonduktor dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pada tahap awal, pelatihan ditargetkan menjangkau hingga 1.000 peserta yang terdiri dari engineer berpengalaman, lulusan baru, hingga mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Para peserta mendapatkan pembelajaran dasar desain chip menggunakan kurikulum global milik Arm. Materi yang diberikan mencakup desain chip berbasis teknologi komputasi Arm, pengenalan sistem komputasi modern, akses pelatihan daring, hingga wawasan mengenai peluang karier di industri semikonduktor.

Pelatihan tatap muka selama tiga hari akan dilanjutkan dengan pembelajaran mandiri secara daring selama tiga bulan. Langkah ini dilakukan agar proses pengembangan kemampuan peserta berlangsung berkelanjutan dan lebih mendalam.

Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit P. Santosa mengatakan kemajuan industri dan teknologi menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Menurutnya, sektor semikonduktor akan memainkan peran penting dalam membangun daya saing nasional.

“Semikonduktor adalah fondasi industri masa depan kita dan landasan bagi kemakmuran Indonesia ke depan,” kata Sigit melalui siara pers, 20 Mei 2026.

Industri semikonduktor saat ini menjadi tulang punggung berbagai teknologi modern, mulai dari AI, perangkat seluler, kendaraan listrik, hingga pusat data. Karena itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat kapasitas dalam negeri agar tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu memproduksi dan mengembangkan teknologi sendiri.

Arm dikenal sebagai salah satu platform komputasi terbesar di dunia yang mendukung teknologi AI dan perangkat digital modern. Teknologi Arm digunakan pada miliaran perangkat di seluruh dunia karena menawarkan komputasi berkinerja tinggi dengan efisiensi energi.

Melalui kerja sama ini, Danantara Indonesia juga akan memanfaatkan program Arm Total Access untuk memperluas akses terhadap platform komputasi Arm. Program tersebut memungkinkan pengembangan chip dan teknologi AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan regional serta memperkuat rantai pasok teknologi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto menilai pengembangan industri semikonduktor membutuhkan investasi jangka panjang, terutama pada pengembangan sumber daya manusia dan riset.

“Kolaborasi antara Danantara dan Arm merupakan langkah strategis bagi Indonesia. Dengan 1.000 talenta yang mengikuti kursus ini hari ini, kita melihat masa depan Indonesia cerah,” ujar Airlangga.

Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman menyebut program ini menjadi bagian penting dalam membangun pipeline talenta semikonduktor nasional dari lingkungan perguruan tinggi.

Menurut Fauzan, keterlibatan mahasiswa, dosen, peneliti, hingga profesional teknis diharapkan dapat memperkuat hubungan antara kampus dan industri teknologi. Program tersebut juga dinilai dapat membuka peluang riset terapan yang lebih luas di bidang desain chip dan pengembangan AI.

Gelombang pelatihan berikutnya akan dilaksanakan secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Model pelatihan akan menggabungkan kelas tatap muka dengan dukungan infrastruktur pelatihan global milik Arm.

Kolaborasi Danantara Indonesia dan Arm diharapkan dapat mempercepat transfer pengetahuan teknologi ke talenta lokal. Selain memperkuat kedaulatan teknologi nasional, program ini juga diarahkan untuk membawa Indonesia masuk lebih dalam ke industri semikonduktor global yang nilainya diperkirakan mencapai lebih dari USD 600 miliar. (Rfi)