Program Magang 150 Ribu Peserta Jadi Andalan Pemerintah Dorong Lapangan Kerja
Pemerintah terus memperkuat berbagai program untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus membuka lebih banyak kesempatan kerja. Salah satu langkah yang kini menjadi perhatian adalah pelaksanaan Program Magang Nasional yang ditargetkan melibatkan 150 ribu peserta, terutama dari kalangan Generasi Z.
Program tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus membantu lulusan perguruan tinggi mendapatkan pengalaman kerja sebelum masuk ke dunia industri. Dalam pelaksanaannya, peserta magang juga akan menerima gaji yang dibiayai oleh pemerintah selama enam bulan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan program ini membutuhkan dukungan dari dunia usaha agar berjalan maksimal. Karena itu, pemerintah mengajak perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) ikut membuka kesempatan magang bagi mahasiswa.
“Pemerintah mendorong program magang untuk Gen Z. Itu magang 150.000 peserta. Dan saya minta beberapa perusahaan APINDO untuk ikut mendaftar. Jadi saya minta teman-teman dari APINDO bisa menerima magang. Karena magang ini mahasiswa Gen Z dan diberi gaji oleh Pemerintah selama 6 bulan,” kata Airlangga saat Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO ke-XXXV di Makassar, Selasa (4/8/2026).
Menurut Airlangga, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun sumber daya manusia yang siap menghadapi kebutuhan industri di masa depan. Selain memberikan pengalaman kerja, peserta juga diharapkan memperoleh keterampilan yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha.
Program magang menjadi salah satu dari sejumlah kebijakan yang ditempuh pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia masih mencatat sejumlah indikator ekonomi yang cukup positif.
Inflasi pada Juli 2026 berada di angka 2,88 persen secara tahunan atau masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah. Aktivitas industri manufaktur juga tetap berada pada zona ekspansif dengan indeks PMI sebesar 50,2. Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,67 persen pada Juni 2026 dan cadangan devisa tercatat sebesar USD145,6 miliar.
Selain fokus pada pengembangan tenaga kerja, pemerintah juga menjalankan berbagai program untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah stimulus seperti diskon transportasi, bantuan pangan, THR bagi ASN, Bantuan Hari Raya untuk pengemudi ojek online, hingga program vokasi bagi 220 ribu peserta terus dijalankan.
Di sektor investasi, pemerintah tetap berupaya menjaga kepercayaan pelaku usaha melalui kebijakan fiskal yang hati-hati dan berbagai reformasi. Indonesia juga kembali mempertahankan peringkat layak investasi dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings.
Pemerintah juga memperluas sumber pembiayaan melalui penerbitan Panda Bonds berdenominasi yuan yang memperoleh peringkat AAA/Stable. Langkah ini diharapkan dapat membuka akses pembiayaan yang lebih luas sekaligus meningkatkan kepercayaan investor internasional.
Di sisi lain, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga terus menunjukkan hasil positif. Hingga Semester I 2026, realisasi investasi kumulatif di KEK mencapai Rp368 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 283.234 orang.
Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah saat ini menjalankan tiga mesin utama pertumbuhan ekonomi. Selain memperkuat industri padat karya, pemerintah juga mendorong pengembangan industri semikonduktor, digitalisasi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Pemerintah juga terus memperluas ekonomi berbasis talenta atau gig economy agar semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki peluang bekerja sesuai perkembangan kebutuhan industri.
Menurut Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto, kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pemerintah terus memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga, iklim investasi semakin kondusif, serta reformasi regulasi dan transformasi ekonomi berjalan secara konsisten. Kolaborasi yang erat antara Pemerintah dan dunia usaha menjadi fondasi penting untuk meningkatkan daya saing nasional, memperluas kesempatan kerja, dan mewujudkan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, serta berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global,” ujar Haryo.
Melalui perluasan program magang dan dukungan dunia usaha, pemerintah berharap semakin banyak generasi muda yang memiliki pengalaman kerja, meningkatkan kompetensi, serta lebih siap memasuki pasar tenaga kerja di masa mendatang. ***


