PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat pertumbuhan kredit hingga Rp1.036 triliun per Juni 2026. Di tengah ekspansi pembiayaan tersebut, kualitas pinjaman justru membaik dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) turun menjadi 1,9 persen.
Capaian tersebut disampaikan BCA dalam kegiatan Public Expose 2026 yang digelar di Jakarta, 9 September 2026. Total kredit perseroan tumbuh 8 persen secara tahunan (YoY), dengan pembiayaan produktif menjadi salah satu penopang utama.
Per Juni 2026, kredit produktif BCA mencapai Rp802 triliun atau tumbuh 11 persen YoY. Di dalamnya, kredit korporasi tumbuh 13,6 persen menjadi Rp513,4 triliun, sedangkan kredit komersial dan UKM meningkat 6,6 persen menjadi Rp288,5 triliun.
Pertumbuhan tersebut berlangsung ketika kualitas pinjaman BCA tercatat semakin terjaga. Rasio NPL pada semester I 2026 berada di level 1,9 persen, membaik dibandingkan 2,2 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Rasio loan at risk (LAR) juga turun dari 5,7 persen menjadi 4,9 persen. Penurunan kedua indikator tersebut menjadi gambaran bahwa ekspansi kredit tetap diikuti pengelolaan risiko yang dilakukan secara hati-hati.
Dari sisi pendanaan, BCA mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.284 triliun per Juni 2026, naik 7,9 persen YoY. Dana murah atau current account and savings account (CASA) tumbuh 10,2 persen menjadi Rp1.082 triliun.
Kontribusi CASA terhadap total DPK juga meningkat menjadi 85,2 persen dari sebelumnya 83,4 persen. Sejalan dengan pertumbuhan kredit dan pendanaan, BCA bersama entitas anak membukukan laba bersih Rp29,5 triliun pada semester I 2026.
“Ditopang likuiditas yang solid serta mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif, kami optimistis menjaga pertumbuhan kredit berkualitas secara berkelanjutan,” kata Direktur BCA Vera Eve Lim dalam siaran persnya pada keterbukaan informasi BEI.
Selain kredit konvensional, BCA juga mencatat pertumbuhan pembiayaan berkelanjutan. Green financing tumbuh 19 persen YoY menjadi Rp123 triliun. Pembiayaan ke sektor energi baru terbarukan bahkan tumbuh 82 persen menjadi Rp7,7 triliun.
Kredit kendaraan bermotor listrik juga meningkat 25 persen menjadi Rp4 triliun. BCA menyebut capaian tersebut menjadi bagian dari implementasi nilai Environmental, Social, and Governance (ESG).







