Skrol untuk membaca pos

UGM, UI, dan Unpas Bawa Teknologi Baru untuk Hadapi Bencana

Muh. Rifai
Ilustrasi Foto: Ai
A-AA+A++

Perguruan tinggi menunjukkan peran yang semakin dekat dengan kebutuhan penanggulangan bencana melalui berbagai inovasi yang dipamerkan dalam Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026. UGM, UI, dan Unpas menghadirkan teknologi mulai dari sistem peringatan dini, desain bangunan tahan gempa, hingga peralatan untuk mendukung respons darurat.

Universitas Gadjah Mada (UGM) menampilkan dua sistem peringatan dini, yakni Deteksi Dini Longsor (DENILO) dan Deteksi Dini Banjir (DENIJI). DENILO dikembangkan sejak 2021, sedangkan DENIJI mulai dikembangkan pada 2023.

Kedua sistem bekerja secara real-time dan terintegrasi. Saat mendeteksi pergerakan tanah atau potensi banjir, sistem dapat mengaktifkan sirine serta mengirimkan data dalam hitungan detik ke dasbor, Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD), dan masyarakat.

Pusdalops juga dapat menyampaikan pengumuman secara langsung. Sistem menggunakan dua jalur komunikasi, yakni jaringan selular GSM dan internet. Ketika internet terganggu, SMS melalui GSM dapat menjadi jalur alternatif penyampaian informasi.

Dari sisi inklusivitas, DENILO dilengkapi lampu sorot sebagai peringatan visual bagi masyarakat dengan keterbatasan pendengaran. Informasi juga dapat disebarkan melalui WhatsApp. Saat ini DENILO telah dipasang sekitar 75 titik dan DENIJI di empat titik, terutama di Jawa Tengah, dengan pemasangan yang disertai edukasi kepada masyarakat.

UGM juga mengembangkan program Sekolah Early Warning System (EWS) selama empat hari. Materinya mencakup pemahaman kebencanaan, teori EWS, pengolahan data, pengoperasian dan pemeliharaan perangkat, kearifan lokal, hingga praktik membuat EWS sederhana.

Sementara itu, Universitas Indonesia (UI) membawa Bifurca Tower dalam EERI Seismic Design Competition 2026 di Portland, Oregon, Amerika Serikat, pada 13–17 Juli 2026. Dari 47 tim universitas, UI menjadi satu-satunya wakil Indonesia dan Asia Tenggara yang mencapai final.

Tim UI meraih peringkat keenam secara keseluruhan, keenam kategori komunikasi, keempat proposal, kelima presentasi, dan ketiga dalam T-Shirt Design Competition. Enam mahasiswa Teknik Sipil dan Arsitektur Interior menggabungkan analisis struktur, desain ruang, serta aspek arsitektur dalam rancangan tersebut.

Salah satu pendekatannya menggunakan Negative Stiffness Friction Damper untuk membantu bangunan merespons guncangan dan mendisipasikan energi gempa. Tim juga melihat peluang pengembangan konsep retrofit structure untuk memperkuat bangunan eksisting di Indonesia yang berada di kawasan ring of fire.

Universitas Pasundan (Unpas) menghadirkan portable fire pump (PFP) dan prototipe teknologi penjernih air portabel. PFP berbobot sekitar 13 kilogram dan dirancang untuk menjangkau lokasi yang sulit didatangi kendaraan pemadam, seperti hutan dan permukiman padat.

Alat tersebut menggunakan mesin 2 tak 80 cc, bahan bakar satu liter, dan dapat beroperasi sekitar 1–1,5 jam. Kapasitas semprotnya mencapai 80 liter per menit dengan jangkauan sekitar 25 meter secara horizontal dan 15 meter secara vertikal. Selang sepanjang 30 meter memungkinkan pengguna menjangkau titik api dari berbagai sumber air.

Inovasi yang dikembangkan dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik Unpas itu telah dipatenkan dan diarahkan untuk pemanfaatan lebih luas, termasuk oleh masyarakat dan BUMDes. Teknologi penjernih air portabel juga dikembangkan untuk membantu penyediaan air bersih ketika sumber air terdampak pencemaran akibat bencana.

Rangkaian inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana riset perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi solusi praktis, dari memberikan waktu bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri hingga mendukung respons dan pemulihan. ADEXCO 2026 sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan riset, teknologi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan bencana secara berkelanjutan. ***