Skrol untuk membaca pos

Pelatihan Vokasi Nasional Diperluas, 4,8 Juta Anak Muda Jadi Sasaran

Muh. Rifai
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menghadiri Kick Off Program Pelatihan Vokasi Nasional Batch IV Tahun 2026 di Kota Serang, Selasa (1/9/2026). Foto: Humas Ekon
A-AA+A++

Pemerintah memperluas pelatihan vokasi nasional untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di tengah pertumbuhan investasi dan perubahan struktur ekonomi. Langkah ini juga diarahkan untuk mempersempit kesenjangan kompetensi, terutama karena sekitar 4,8 juta pengangguran berasal dari kelompok generasi muda.

Pemerintah terus memperkuat pelatihan vokasi sebagai bagian dari stimulus ekonomi Semester II 2026. Program tersebut diarahkan agar peningkatan investasi dapat diikuti kesiapan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan program tersebut merupakan arahan Presiden yang harus dijalankan secara efektif dan tepat sasaran.

“Program ini merupakan arahan Bapak Presiden yang menjadi bagian dari stimulus di semester dua di tahun 2026 yang perlu dijalankan secara efektif, tepat sasaran, dan berdampak bagi masyarakat,” ujar Airlangga dalam Kick Off Program Pelatihan Vokasi Nasional Batch IV Tahun 2026 di Kota Serang, Selasa (1/9).

Penguatan vokasi dilakukan seiring realisasi investasi yang terus tumbuh. Hingga Semester I 2026, investasi mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Nilai tersebut setara dengan 49,5 persen dari target dan turut menciptakan sekitar 1,4 juta lapangan kerja secara nasional.

Pada saat yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional telah turun menjadi 4,65 persen. Namun, sekitar 67 persen dari total pengangguran berasal dari kelompok generasi muda atau mencapai sekitar 4,8 juta orang.

Tantangan tersebut semakin kompleks karena kebutuhan industri ikut berubah. Selain keterampilan digital, transisi menuju ekonomi hijau menciptakan kebutuhan terhadap profesi baru, seperti teknisi panel surya, teknisi turbin, hingga tenaga dengan kemampuan smart farming.

Pemerintah juga mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GW. Sementara itu, kapasitas listrik nasional saat ini sekitar 88 GW dan kapasitas produksi panel surya dalam negeri telah mendekati 11 GW.

Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 menargetkan sekitar 340.000 peserta. Sebanyak 70.000 peserta berasal dari alokasi APBN existing, sedangkan 270.000 peserta tambahan berasal dari stimulus ekonomi Semester II 2026.

Hingga Agustus 2026, sebanyak 89.337 peserta telah mengikuti pelatihan. Sementara Batch IV dilaksanakan serentak dengan 12.128 peserta.

Airlangga mengatakan pencapaian target membutuhkan pemanfaatan fasilitas pelatihan secara optimal, termasuk milik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan industri.

“Bapak Presiden ingin agar ini skalanya besar termasuk untuk vokasi ini, maka tentu ke depan kita harus memanfaatkan seluruh fasilitas yang dimiliki tidak hanya oleh Pemerintah pusat, Pemerintah daerah, tetapi juga kalangan industri,” pungkas Airlangga.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan pelatihan vokasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan nyata dunia kerja.

“Pelatihan vokasi perlu dirancang secara adaptif agar kompetensi yang diberikan benar-benar relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan jenis pekerjaan,” ujar Haryo.

Ia menambahkan, kolaborasi pemerintah dan dunia usaha diperlukan agar proses upskilling dan reskilling mampu memperkuat kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan teknologi dan transformasi industri. ***