Skrol untuk membaca pos

Kekeringan di Parigi Moutong, 1.400 Hektare Sawah Terdampak

Muh. Rifai
Ilustrasi. Ai
A-AA+A++

Kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, hingga Jumat (21/8/2026). Kondisi yang dipicu tidak adanya curah hujan itu berdampak pada sekitar 1.400 hektare lahan sawah, sementara debit sumber air utama di Desa Kayu Agung dilaporkan hanya tersisa sekitar 25 persen dari kondisi normal.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kekeringan terjadi di sembilan desa yang tersebar di tiga kecamatan. Wilayah terdampak berada di Kecamatan Mepanga, Bolano Lambunu, dan Tomini.

Dalam laporan BNPB yang disampaikan Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, melalui rilis BPNP, kondisi kekeringan tersebut masih berlangsung hingga Jumat (21/8).

Di Kecamatan Mepanga, kekeringan melanda Desa Kotaraya Induk, Kotaraya Barat, Kotaraya Timur, Kotaraya Selatan, Kotaraya Tenggara, Kayu Agung, dan Ogotion. Sementara di Kecamatan Bolano Lambunu, kondisi kekeringan terjadi di Desa Anutapu. Adapun di Kecamatan Tomini, wilayah terdampak berada di Desa Ambesia Barat.

Kondisi tersebut membuat persoalan ketersediaan air menjadi perhatian, terutama karena sebagian wilayah terdampak merupakan kawasan lahan sawah. Berdasarkan laporan BNPB, sekitar 1.400 hektare sawah terdampak akibat kondisi kekeringan yang masih berlangsung.

Situasi di Desa Kayu Agung memberikan gambaran mengenai tekanan terhadap sumber air di wilayah tersebut. Berton SP Panjaitan dalam laporan BNPB menyebutkan debit sumber air utama di Desa Kayu Agung hanya sekitar 25 persen dari kondisi normal hingga Jumat (21/8).

Penurunan debit tersebut menunjukkan terbatasnya ketersediaan air di tengah belum adanya curah hujan. Kondisi ini menjadi persoalan bagi wilayah pertanian yang membutuhkan pasokan air untuk mempertahankan kegiatan budidaya.

Kekeringan tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya air untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat berdampak pada aktivitas pertanian. Ketika sumber air mengalami penurunan, lahan persawahan yang bergantung pada ketersediaan air menjadi salah satu sektor yang terdampak langsung.

BNPB melalui BPBD Kabupaten Parigi Moutong telah melakukan asesmen dan kaji cepat untuk mengetahui kondisi di lapangan. Penanganan juga dilakukan dengan berkoordinasi bersama aparat desa dan masyarakat di wilayah terdampak.

Langkah tersebut dilakukan untuk memantau perkembangan kondisi kekeringan serta mengetahui dampak yang terjadi di wilayah terdampak. Namun, hingga Jumat (21/8), kondisi kekeringan di sembilan desa tersebut masih berlangsung.

Data BNPB menunjukkan luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 1.400 hektare. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai luas sektor pertanian yang berada dalam tekanan akibat terbatasnya ketersediaan air.

Sementara itu, kondisi sumber air di Desa Kayu Agung juga menjadi perhatian karena debitnya hanya berada di kisaran 25 persen dari kondisi normal. Jika kondisi tanpa curah hujan terus berlangsung, ketersediaan air akan menjadi salah satu faktor yang perlu terus dipantau oleh pemerintah daerah bersama masyarakat.

Penanganan kekeringan membutuhkan pemantauan kondisi lapangan secara berkala. Asesmen dan kaji cepat yang dilakukan BPBD menjadi bagian dari upaya untuk mengetahui perkembangan sumber air, kondisi lahan persawahan, serta kebutuhan masyarakat di desa-desa yang terdampak.

Kekeringan di Parigi Moutong menjadi salah satu kejadian bencana yang masuk dalam laporan BNPB pada periode Kamis hingga Jumat, 20–21 Agustus 2026. Pada periode yang sama, BNPB juga mencatat sejumlah kejadian bencana lain, termasuk kebakaran hutan dan lahan serta cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.

Untuk Parigi Moutong, persoalan utama yang tercatat adalah belum adanya curah hujan yang berdampak terhadap ketersediaan air dan lahan pertanian. Kondisi tersebut masih berlangsung sampai laporan terakhir BNPB pada Jumat (21/8).

Pemerintah daerah bersama BPBD dan masyarakat masih perlu memantau perkembangan kondisi di sembilan desa terdampak. Perubahan debit sumber air serta perkembangan cuaca menjadi bagian dari kondisi yang perlu diperhatikan dalam penanganan kekeringan.

Hingga laporan terakhir, kekeringan masih melanda sembilan desa di Kabupaten Parigi Moutong dan berdampak terhadap sekitar 1.400 hektare lahan sawah. Debit sumber air utama di Desa Kayu Agung yang hanya sekitar 25 persen dari kondisi normal menjadi salah satu indikator bahwa kondisi kekeringan masih berlangsung.

Sebagai informasi, BMKG telah menyampaikan sejak Maret 2026 lalu bahwa Indonesia akan mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksi tersebut diperkuat oleh rilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni 2026.

El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda, namun keduanya dapat berpengaruh terhadap kondisi curah hujan di Indonesia. Berdasarkan hasil monitoring BMKG hingga akhir Mei 2026, indeks ENSO telah mencapai +1,0 yang menunjukkan kondisi El Nino, sementara sekitar 28 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini berlangsung antara tiga hingga tujuh bulan tergantung wilayahnya. ***

Berita Terkait

Bahlil Janji Revisi Kepmen ESDM 157, Sulteng Menunggu
Walatana Disiapkan Jadi Model Pertanian Modern Sulteng
Sulteng Kirim Rp1 Miliar Bantu Warga Korban Gempa NTT
Ketua DPRD Sulteng Bacakan Teks Proklamasi HUT RI ke-81
Penerbangan Palu-Guangzhou Dibuka, Peluang Investasi dan Pariwisata Sulawesi Tengah Makin Besar
Rute Internasional Palu–Guangzhou Dibuka Mulai 6 Agustus