Sementara itu, tingkat inflasi hingga Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran pemerintah dan Bank Indonesia sehingga stabilitas harga relatif tetap terjaga.
Di sisi belanja, pemerintah telah merealisasikan pengeluaran sebesar Rp1.365,4 triliun atau meningkat 34,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Belanja tersebut digunakan untuk mendukung berbagai program prioritas, mulai dari menjaga daya beli masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan layanan publik, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi.
Purbaya mengatakan percepatan belanja negara sengaja dilakukan agar dampak APBN dapat dirasakan lebih cepat oleh masyarakat dan dunia usaha.
Meski belanja meningkat cukup besar, kondisi fiskal pemerintah masih terjaga. Hingga akhir Mei 2026, defisit APBN tercatat sebesar 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), masih jauh di bawah batas yang ditetapkan undang-undang.
Kabar baik lainnya datang dari keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus sebesar Rp58,6 triliun. Posisi ini menunjukkan kemampuan fiskal pemerintah semakin membaik dalam membiayai kebutuhan anggaran negara.
“Surplus keseimbangan primer sekarang Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya,” ungkap Purbaya.
Pemerintah memastikan akan terus menjaga kesehatan APBN agar tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus menghadapi berbagai risiko global yang masih mungkin terjadi ke depan.
“Ke depan, pemerintah akan terus menjaga APBN tetap sehat, prudent, adaptif, dan kredibel guna memperkuat stabilitas, menjaga momentum pertumbuhan, serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (Red)








