“Semua pengurus koperasi pemilik IPR di Buranga yang saya hubungi menyatakan bahwa itu bukan alat mereka. Bahkan mereka sendiri terkejut mendengar ada alat berat masuk ke lokasi pertambangan tanpa sepengetahuan mereka,” jelas Sofiana.
Warga Protes, Tolak Alat Berat Melintasi Jalan Desa
Keberadaan alat berat yang melintas di Dusun 3 Desa Buranga juga memicu reaksi keras dari warga. Salah satu warga, Niluh Rediami, melalui akun Facebook pribadinya, mengungkapkan keberatan atas penggunaan jalan desa oleh alat berat tambang.
“Kami masyarakat Dusun 3, khususnya saya pribadi, tidak mengizinkan alat berat dan sejenisnya melintas di jalan desa kami. Selama ini kami tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait aktivitas tambang di wilayah ini,” tulis Niluh Rediami pada Minggu malam, 9 Maret 2025.
Selain menolak penggunaan jalan desa oleh alat berat tambang, warga juga mengajukan beberapa tuntutan kepada pemerintah dan pengelola tambang, di antaranya:
- Alat berat tidak boleh melintas di jalan desa (Jalan Telkom).
- Jalan desa yang rusak harus diperbaiki oleh pihak pengelola tambang.
- Pengelola tambang harus menyediakan air bersih bagi seluruh warga Desa Buranga.
Ketegangan di Lapangan, Warga Mengaku Diancam
Insiden pada malam tersebut juga diwarnai ketegangan. Niluh Rediami mengaku sempat terlibat adu fisik dengan sejumlah orang yang mengawal alat berat tersebut. Bahkan, ia mengklaim mendapat ancaman menggunakan senjata tajam jenis samurai.
“Para preman yang mengawal alat berat itu terlibat adu fisik dengan saya. Salah satu dari mereka bahkan mengancam saya dengan samurai,” tulisnya di akun Facebook pribadinya.
Atas insiden tersebut, warga Desa Buranga meminta wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 1 untuk segera turun tangan dan menindaklanjuti permasalahan ini. Mereka berharap kejadian serupa tidak terulang kembali dan semua pihak yang terlibat dapat mencapai kesepakatan yang adil bagi masyarakat. (Tim)









