Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sulteng Bersatu menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Perwakilan Komnas HAM Provinsi Sulawesi Tengah di Jalan Suprapto, Kota Palu, Senin (9/3/2026) sore.
Mereka menuntut pencopotan Kepala Perwakilan Komnas HAM Sulteng, Livand Breemer, yang menjabat sejak 2025.
Massa aksi tiba di lokasi menggunakan satu unit mobil sound system dan puluhan kendaraan roda dua. Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.10 WITA tersebut diikuti ratusan peserta yang langsung melakukan orasi di depan kantor lembaga negara itu.
Dalam orasinya, massa menuding Kepala Perwakilan Komnas HAM Sulteng, Livand Breemer, memiliki keterlibatan dalam aktivitas pertambangan emas di Kelurahan Poboya, Kota Palu. Tuduhan tersebut menjadi alasan utama mereka mendesak agar yang bersangkutan dicopot dari jabatannya.
Koordinator lapangan aksi, Amier Sidik, dalam orasinya menyampaikan bahwa Livand diduga memiliki kolam perendaman emas secara pribadi di kawasan tambang Poboya. Ia juga menuduh adanya kerja sama operasi dengan seseorang berinisial S untuk mengelola aktivitas tersebut.
“Jangan sok suci. Ketua Komnas HAM Sulteng ini ibarat maling teriak maling,” teriak Amier Sidik di hadapan massa aksi.
Menurut Amier, tudingan tersebut berbanding terbalik dengan sikap Livand yang selama ini kerap menyuarakan penolakan terhadap aktivitas pertambangan ilegal di wilayah tersebut. Ia menyebut Livand justru diduga terlibat secara diam-diam.
Selain melakukan orasi, massa juga membakar ban bekas di depan kantor Komnas HAM Sulteng. Aksi tersebut sempat diwarnai lemparan tomat busuk dan kotoran hewan ke arah halaman kantor.
Dalam orasi lanjutan, Amier juga menyebut Livand pernah memasok puluhan kaleng bahan kimia jenis sianida ke kawasan tambang di Poboya. Ia mengklaim jumlahnya mencapai 42 kaleng yang diduga digunakan untuk aktivitas pengolahan emas.
“Ketua Komnas HAM Sulteng pernah memasok 42 kaleng sianida ke Poboya dan alat berat satu unit,” ujarnya.
Sementara itu, orator lainnya, Imam Safa’at, juga mengkritik sikap Livand yang menurutnya sering memberikan pernyataan terkait tambang rakyat di Sulawesi Tengah. Ia menilai masih banyak persoalan hak asasi manusia lain yang perlu mendapat perhatian.







