Ribuan penambang rakyat Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah, turun ke jalan pada Rabu (28/1/2026) untuk menyuarakan tuntutan lama yang hingga kini belum mendapatkan kepastian, yakni penciutan sebagian lahan konsesi PT Citra Palu Minerals (CPM) agar ditetapkan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).
Aksi ini menjadi puncak dari perjuangan bertahun-tahun masyarakat penambang yang merasa hidup mereka terus berada dalam ketidakjelasan. Sejak pagi hari, ribuan massa bersiap bergerak menuju sejumlah titik strategis pemerintahan di Kota Palu untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka.
Sehari sebelum aksi berlangsung, suasana di kawasan tambang Poboya sudah terlihat berbeda. Sejak Selasa malam (27/1/2026), para penambang melakukan pra kondisi dengan memblokir akses jalan menuju area tambang. Puluhan truk dan kendaraan pengangkut material diparkir berjajar di badan jalan tanah berbatu, sementara ratusan penambang duduk berkelompok menunggu waktu aksi. Seluruh aktivitas penambangan rakyat dihentikan sementara sebagai bentuk solidaritas bersama.
Pantauan di lokasi pra kondisi menunjukkan barisan truk tambang terparkir rapat, diterangi lampu kendaraan serta cahaya warung darurat di pinggir jalan. Sejumlah penambang terlihat duduk di tanah, sebagian bersandar di kendaraan, berdiskusi sambil menunggu waktu. Di tengah gelapnya malam, kebersamaan antarpenambang tampak kuat, menggambarkan denyut kehidupan ribuan keluarga yang selama ini menggantungkan hidup dari tambang rakyat Poboya.
Aksi demonstrasi ini dibenarkan oleh tokoh Front Pemuda Kaili (FPK) Sulawesi Tengah, Amir Sidiq. Ia memastikan ribuan penambang rakyat akan turun langsung ke jalan sejak pagi hari.
“Benar, hari ini kami turun aksi,” kata Amir saat dikonfirmasi.
Menurut Amir, demonstrasi dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WITA. Massa akan bergerak secara berurutan menuju empat titik, yakni Kantor DPRD Kota Palu, DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, serta Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Keempat lokasi tersebut dipilih sebagai simbol harapan agar wakil rakyat dan aparat negara memberikan perhatian serius terhadap tuntutan penambang rakyat Poboya.
Amir menyebutkan, jumlah massa yang terlibat diperkirakan mencapai 4.000 hingga 5.000 orang. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan yang selama ini bergantung pada aktivitas tambang rakyat, mulai dari sopir truk, operator tromol, buruh angkut, hingga pekerja tambang lainnya. Seluruh elemen tersebut bergabung dalam satu barisan untuk menyuarakan tuntutan yang sama.









