Penyaluran pinjaman juga berkembang dengan nilai buku pinjaman mencapai Rp12 triliun, meningkat 51 persen secara tahunan.
Meski demikian, GoTo menyatakan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, terutama terhadap kelompok pengguna dengan tingkat risiko tinggi.
Gojek Masih Menghadapi Dampak Komisi 8 Persen
Berbeda dengan GoPay, bisnis On-demand Services yang mencakup Gojek menghadapi tekanan dari perubahan struktur komisi GoRide.
Jumlah pesanan yang berhasil diselesaikan tumbuh 9 persen secara tahunan. Namun, GTV hanya meningkat 1 persen menjadi Rp16,9 triliun.
Pada segmen Mobility, jumlah pesanan tumbuh 10 persen, tetapi EBITDA yang disesuaikan turun 16 persen menjadi Rp159 miliar. Margin EBITDA juga menyusut 50 basis poin menjadi 2,5 persen.
GoTo memperkirakan penerapan batas komisi 8 persen memberikan dampak sekitar Rp150 miliar terhadap layanan GoRide pada kuartal III-2026. Angka tersebut sejalan dengan estimasi dampak sepanjang tahun sebesar Rp300 miliar.
Meski sempat mencatatkan EBITDA yang disesuaikan negatif pada Juli, kinerja GoRide mulai membaik dan bergerak menuju titik impas.
Sementara itu, bisnis Delivery memperlihatkan perkembangan lebih positif. Jumlah pesanan meningkat 7 persen, sedangkan EBITDA yang disesuaikan tumbuh 20 persen menjadi Rp227 miliar. Margin EBITDA juga meningkat 33 basis poin menjadi 2,1 persen.
GoTo Siapkan Pembatalan 32 Miliar Saham Treasuri
Selain memperbaiki kinerja operasional, GoTo juga mengambil langkah terkait pengelolaan modal dan nilai bagi pemegang saham.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 14 Oktober 2026, pemegang saham menyetujui pembatalan 32 miliar saham treasuri atau sekitar 2,7 persen dari total saham beredar.
Proses pembatalan tersebut diperkirakan efektif dalam dua hingga tiga bulan setelah seluruh persyaratan regulasi diselesaikan. Langkah ini akan mengurangi jumlah saham beredar sehingga meningkatkan persentase kepemilikan pemegang saham yang ada.
GoTo juga melanjutkan program pembelian kembali saham atau buyback.
Hingga 29 Oktober 2026, perusahaan telah mengalokasikan Rp985 miliar untuk membeli kembali 36 miliar saham. Jumlah tersebut setara hampir 3 persen dari total saham perusahaan.




