Skrol untuk membaca pos

Karhutla Kalsel Meluas, 595 Hektare Terbakar; Parigi Moutong Hadapi Kekeringan 1.400 Hektare Sawah

Muh. Rifai
Ilustrasi Foto: Ai
A-AA+A++

BNPB Kerahkan Tiga Helikopter Water Bombing

Skala karhutla di Kalsel membuat BNPB memperkuat penanganan melalui operasi udara.

Sebanyak dua unit patroli udara dan tiga helikopter water bombing disiagakan di Lanud Sjamsudin Noor.

Patroli udara menggunakan helikopter Bell 206 Reg. PK-IWF dan pesawat Cessna Caravan C208 Reg. PK-SNK.

Dalam penerbangan selama 4 jam 35 menit, patroli udara menemukan 29 titik api dengan estimasi luasan lahan terbakar sekitar 536 hektare.

Sementara itu, tiga helikopter water bombing melakukan ratusan kali penjatuhan air.

Helikopter AS 322C1 Super Puma Reg. PK-DAN melakukan 245 kali penjatuhan air dengan total sekitar 980.000 liter air.

Helikopter MI8-AMT Reg. RA-22834 melakukan 57 kali penjatuhan air dengan total sekitar 228.000 liter air.

Kemudian Sikorsky Black Hawk Reg. N711BF melakukan 82 kali penjatuhan air dengan total sekitar 328.000 liter air.

Jika dijumlahkan, tiga helikopter tersebut melakukan 384 kali penjatuhan air dengan total sekitar 1,536 juta liter air.

Operasi udara diprioritaskan untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat, terutama wilayah yang mendekati permukiman masyarakat dan kawasan Ring 1 Bandara Sjamsudin Noor Banjarbaru.

Sementara itu, operasi darat tetap dimaksimalkan pada lokasi yang berada di area IUP/HGU.

Angin Kencang dan Keterbatasan Air Jadi Kendala

Besarnya pengerahan personel dan armada tidak serta-merta membuat penanganan karhutla menjadi mudah.

BNPB mencatat sejumlah tantangan di lapangan, antara lain angin kencang yang mempercepat penyebaran api, akses menuju titik api yang sulit, serta keterbatasan sumber air.

Selain itu, terdapat titik api di wilayah pertambangan dan perkebunan yang tidak dapat dijangkau melalui operasi water bombing.

Situasi tersebut membuat strategi pemadaman harus disesuaikan dengan karakter lokasi. Area yang sulit dijangkau dari darat membutuhkan dukungan udara, sementara lokasi tertentu tetap harus ditangani langsung oleh tim di lapangan.

BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus mengoptimalkan operasi darat dan udara. Penggunaan helikopter akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan berdasarkan pemantauan potensi pertumbuhan awan hujan bersama BMKG.