Dalam percakapan tersebut, Y terdengar marah dan meminta keluarganya berhenti mencarinya. Ia bahkan mengancam tidak akan pernah pulang jika keluarganya melibatkan polisi. Saat itu keluarga mengira Y benar-benar memilih menjauh dari mereka. Belakangan mereka menyadari bahwa kemungkinan besar korban berbicara dalam kondisi tertekan dan berada di bawah kendali orang lain.
Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga akhirnya hampir dua tahun tanpa kepastian. Keluarga mengaku sempat putus asa. Mereka mulai berpikir bahwa Y memang tidak ingin kembali dan memilih menjalani hidupnya sendiri.
Namun semuanya berubah ketika ayah korban menerima telepon yang mengabarkan bahwa Y berada di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Tanpa berpikir panjang, keluarga langsung menuju rumah sakit.
Apa yang mereka lihat di sana membuat semua orang terpukul.
Ayah korban disebut sempat pingsan setelah melihat kondisi anaknya. Wajah Y mengalami kerusakan parah. Salah satu matanya hampir tidak berfungsi. Hidungnya terlihat tidak normal. Giginya banyak yang patah. Tubuhnya dipenuhi luka lama yang sudah mengalami infeksi.
Bahkan menurut keterangan keluarga, terdapat luka di kepala yang sudah sangat parah hingga memunculkan infeksi serius. Beberapa bagian tubuh lainnya juga menunjukkan bekas kekerasan yang diduga telah berlangsung dalam waktu lama.
Setelah mulai bisa berkomunikasi, Y perlahan menceritakan apa yang dialaminya. Ia mengaku sering dipukul menggunakan berbagai benda keras. Bagian mata menjadi salah satu sasaran utama kekerasan yang diterimanya. Akibatnya, kemampuan penglihatannya terus menurun hingga hampir hilang sepenuhnya.
Korban juga mengaku mengalami kekerasan seksual selama berada bersama pelaku. Selain itu, hampir seluruh harta bendanya disebut telah dikuasai oleh pria tersebut, mulai dari kendaraan, telepon genggam, hingga penghasilannya selama bekerja.
Menurut pengakuannya, ia beberapa kali mencoba melarikan diri. Namun kondisi fisiknya yang semakin lemah serta gangguan penglihatan membuat upaya itu selalu gagal. Setiap kali mencoba melawan atau meminta pertolongan, ia mengaku mendapat penyiksaan yang lebih berat.
Y juga menceritakan bahwa dirinya kerap berpindah-pindah tempat kos. Pada kos terakhir, beberapa penghuni disebut pernah mendengar suara benturan keras dari dalam kamar. Namun tidak ada yang berani ikut campur karena takut terhadap pelaku yang dikenal sering bersikap kasar dan membawa senjata tajam.








