WhatsApp Image 2026-10-26 at 23.12.47

Bang Doel: Dari Loper Koran ke Deadline News, Perjalanan Panjang yang Menginspirasi

Muh. Rifai
Andi Attas Abdullah
A-AA+A++

Langit masih kelabu ketika seorang pria melangkah keluar dari rumahnya. Angin pagi menyusup ke tubuhnya yang hanya berbalut jaket tipis. Di tangannya, setumpuk koran ia dekap erat, seolah menggenggam harapan yang belum pasti.

Dialah Andi Attas Abdullah, atau yang lebih akrab disapa Bang Doel, berjalan menyusuri gang-gang Kota Palu dengan langkah mantap. Setiap pagi, ia mengantar lembaran-lembaran berita ke tangan para pembaca. Hanya sedikit yang tahu bahwa di balik tumpukan kertas itu, ada mimpi besar yang ia pendam dalam diam.




Mimpi itu bukan sekadar menulis berita. Bukan sekadar menjadi wartawan. Tapi membangun sesuatu yang lebih besar suatu hari nanti.

Namun, saat itu, ia hanya seorang loper koran.

Sejak kuliah, Bang Doel sudah akrab dengan dunia jurnalistik. Pers kampus menjadi ladangnya untuk belajar, mengasah pena, dan memahami kekuatan berita. Tapi dunia di luar jauh lebih keras.

Tahun 1999, ketika reformasi membuka kebebasan pers, ia melihat peluang besar. Media-media baru bermunculan, membawa harapan baru bagi jurnalisme yang lebih bebas dan berani.

Bang Doel tak ingin hanya menjadi penonton. Ia bergabung dengan Tabloid Nuansa Pos, sebuah media yang masih bertumbuh. Namun, ia tidak langsung menjadi wartawan. Tidak duduk di meja redaksi.

Ia memulai dari bawah. Menjadi loper koran. Menjadi bagian dari tim periklanan.

Setiap hari, ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain, menawarkan berita yang belum tentu dibaca, menawarkan iklan yang belum tentu laku. Tak jarang ia ditolak. Tak jarang ia diremehkan.

Tapi ia tidak menyerah.

Sedikit demi sedikit, ia mulai menulis. Ia mulai memahami bagaimana berita disusun, bagaimana sebuah media bertahan di tengah badai bisnis. Dan tanpa terasa, Nuansa Pos berkembang menjadi harian, dan Bang Doel ikut tumbuh bersama media itu.

Kerja kerasnya tidak sia-sia. Dari seorang loper, ia naik menjadi wartawan. Dari wartawan, ia diangkat menjadi Wakil Pemimpin Redaksi. Hingga akhirnya, Bayu Alexander Montang, pemilik Nuansa Pos, melihat kemampuannya dan mempercayakan posisi Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab kepadanya.