Skrol untuk membaca pos

Ketika Doa Seorang Suami Menjadi Nyata di Rahim Fanny Kondoh

Muh. Rifai
Fanny Kondoh. Foto: Instagram @fannykondoh
A-AA+A++

Di tengah perpisahan yang paling memilukan, seorang suami meletakkan tangannya di perut istrinya dan berbisik dalam lirih, “Ya Allah, lindungilah anak dan istriku.” Tak ada yang tahu bahwa doa itu akan menjadi kenyataan, bahkan ketika ia sendiri telah pergi.

Fanny Kondoh duduk di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan suaminya yang semakin melemah. Kondo-san, pria yang ia cintai dengan sepenuh hati, kini berada di ambang perpisahan dengan dunia.

Selama bertahun-tahun, mereka berjuang bersama melawan kanker yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Namun, di antara semua harapan yang masih ingin ia genggam, ada satu yang tak pernah hilang. Keinginan untuk memiliki anak.

Mereka telah mencoba segalanya. Dua kali program bayi tabung, dua kali pula kegagalan menghancurkan harapan mereka. Saat akhirnya mereka mencoba untuk terakhir kalinya, takdir justru berkata lain.

Senin pagi, Fanny menjalani transfer embrio. Selasa, Kondo-san dilarikan ke rumah sakit. Seminggu kemudian, napasnya yang terakhir mengisi ruangan yang sunyi.

Sebelum pergi, dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia meletakkan tangannya di perut Fanny dan berdoa.

“I’m okay if I have to go, but protect my wife and my baby.”

Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia mengucapkan “I love you.” Beberapa detik kemudian, dengan syahadat di bibirnya, ia pergi.

Tak seorang pun tahu bahwa di dalam tubuh Fanny, ada kehidupan yang telah tumbuh.

Hanya beberapa hari setelah pemakaman, tubuh Fanny mulai melemah. Ia kehilangan berat badan drastis, tubuhnya seakan menolak makanan, dan jiwanya terasa hampa.

Kehilangan Kondo-san adalah hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah merasa sendirian, hingga hari itu tiba.

Namun, di tengah kesedihannya, ada firasat yang begitu kuat di hatinya. Dengan sisa tenaga, ia meminta dokter untuk melakukan tes kehamilan.

Ia tidak berani berharap. Ia tahu terlalu baik bagaimana rasanya kehilangan harapan. Namun, ketika angka beta HCG menunjukkan ribuan, ia terdiam.

Ia hamil.

Tangannya bergetar saat menyentuh perutnya. Air mata yang selama ini jatuh karena kehilangan, kini mengalir dengan makna yang berbeda.