Apa Itu Sesar Palolo? Fakta di Balik Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 menjadi perhatian para ahli geologi dan kebencanaan. Selain menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah, gempa ini juga menyebabkan korban jiwa sebanyak 3 orang.
Badan Geologi melalui laporan analisis yang dipublikasikan pada 17 Juni 2026 memberikan gambaran lebih rinci mengenai mekanisme kejadian tersebut. Berdasarkan kajian yang mengacu pada data BMKG, USGS, dan GFZ, gempa M6,7 di Sulawesi Tengah, dipicu oleh aktivitas Sesar Normal Palolo yang berkembang di kawasan Lembah Palolo. Dengan demikian, sumber gempa ini tidak mengarah pada Sesar Sausu sebagaimana sejumlah dugaan yang sempat beredar.
Data Gempa Menurut BMKG, USGS dan GFZ
BMKG mencatat gempa terjadi pada 16 Juni 2026 pukul 10.27.44 WIB dengan pusat gempa berada pada koordinat 1,04° LS dan 120,23° BT atau sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu. Gempa memiliki magnitudo M6,7 dengan kedalaman 10 kilometer.
USGS Amerika Serikat mencatat pusat gempa berada pada koordinat 1,117° LS dan 120,199° BT dengan magnitudo yang sama, yaitu M6,7 pada kedalaman 10 kilometer.
Sementara itu GFZ Potsdam, Jerman, menempatkan sumber gempa pada koordinat 1,16° LS dan 120,27° BT dengan magnitudo Mw 6,66 dan kedalaman 10 kilometer.
Meski terdapat sedikit perbedaan koordinat, seluruh lembaga menunjukkan parameter yang relatif sama sehingga memberikan gambaran yang konsisten mengenai lokasi dan karakteristik sumber gempa.
Mengapa Gempa Ini Dikaitkan dengan Sesar Palolo?
Hasil analisis parameter sumber gempa menunjukkan bidang sesar berarah Barat Laut-Tenggara dengan mekanisme sesar normal.
Karakteristik tersebut sangat sesuai dengan geometri dan mekanisme Sesar Palolo yang berkembang di Lembah Palolo. Karena itu, laporan analisis menyimpulkan bahwa sumber gempa diperkirakan berasal dari aktivitas graben Palolo.
Pernyataan ini penting karena di masyarakat berkembang berbagai asumsi yang menghubungkan gempa dengan sesar aktif lain di Sulawesi Tengah.
Berdasarkan laporan analisis, Sesar Sausu tidak disebut sebagai sumber utama gempa bumi 16 Juni 2026. Nama Sesar Sausu muncul dalam pembahasan analisis bahaya gempa karena merupakan salah satu sesar aktif yang berada di kawasan terdampak dan memengaruhi pola distribusi intensitas guncangan.
Dengan kata lain, Sesar Sausu merupakan bagian dari sistem struktur aktif di Sulawesi Tengah yang diperhitungkan dalam pemetaan bahaya gempa, namun bukan sesar yang diduga menjadi pemicu utama gempa Palolo M6,7.
Bukti Tambahan dari Analisis Gravity
Salah satu temuan menarik dalam laporan adalah hasil analisis gravity yang digunakan untuk melihat kondisi bawah permukaan.
Pemodelan tersebut memperlihatkan keberadaan struktur graben yang berkembang di Lembah Palolo. Yang lebih menarik, posisi hiposenter gempa berada pada bagian lembah dari struktur graben tersebut.
Temuan ini memperkuat interpretasi bahwa gempa berhubungan langsung dengan aktivitas Sesar Normal Palolo.
Secara geologi, graben merupakan blok batuan yang turun akibat gaya regangan sehingga umumnya berasosiasi dengan sistem sesar normal. Kondisi tersebut sesuai dengan mekanisme sumber gempa yang diperoleh dari analisis BMKG, USGS dan GFZ.
Sulawesi, Wilayah dengan Tektonik Paling Kompleks di Indonesia
Untuk memahami gempa Palolo, perlu melihat posisi Sulawesi dalam kerangka tektonik regional.
Pulau Sulawesi merupakan kawasan pertemuan tiga lempeng besar dunia, yaitu Lempeng Australia yang bergerak ke utara, Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat, dan Lempeng Eurasia yang bergerak ke selatan-tenggara.
Interaksi ketiga lempeng tersebut berlangsung sejak jutaan tahun lalu dan membentuk jaringan sesar aktif yang sangat kompleks.
Di bagian utara berkembang zona subduksi Sulawesi Utara. Di bagian tenggara terdapat sistem konvergensi yang berhubungan dengan Sesar Naik Tolo. Sedangkan di bagian tengah berkembang sistem sesar besar Palu-Koro-Matano yang menjadi salah satu struktur geologi paling aktif di Indonesia.
Kondisi inilah yang membuat Sulawesi Tengah memiliki aktivitas kegempaan tinggi.
Banyak Sesar Aktif di Sulawesi Tengah
Selain Sesar Palolo, wilayah Sulawesi Tengah memiliki sejumlah sesar aktif lainnya.
Di antaranya adalah Sesar Palu-Koro yang memiliki mekanisme mendatar mengiri dan terhubung dengan Sesar Matano. Kemudian terdapat Sesar Poso, Sesar Tokararu, Sesar Napu dan Sesar Weluki yang didominasi mekanisme sesar naik.
Kelompok sesar normal lainnya meliputi Sesar Bada dan Sesar Besoa. Selain itu terdapat pula Sesar Loa dan Sesar Sausu.
Banyaknya struktur aktif tersebut menunjukkan bahwa perubahan tegangan akibat satu gempa besar dapat memengaruhi aktivitas sesar lain di sekitarnya.
Kondisi Geologi yang Memperkuat Guncangan
Wilayah terdampak tersusun oleh batuan ultramafik, batuan malihan, batuan sedimen, batuan karbonat dan endapan aluvium muda.
Endapan aluvium dan material hasil pelapukan yang belum terkonsolidasi memiliki kemampuan memperkuat guncangan gempa melalui fenomena amplifikasi.
Berdasarkan data Vs30, wilayah terdampak terdiri dari kelas tanah C, D dan E. Kelas E merupakan tanah lunak yang berpotensi menghasilkan guncangan lebih besar dibandingkan tanah padat atau batuan keras.
Kondisi inilah yang diduga turut berkontribusi terhadap kerusakan yang terjadi di sejumlah lokasi.
Dampak Gempa di Sigi, Palu dan Parigi Moutong
Guncangan gempa dirasakan luas di Sulawesi.
BMKG mencatat intensitas mencapai VI-VII MMI di Kota Palu dan V-VI MMI di Kabupaten Sigi. Getaran juga dirasakan di Mamuju, Mamasa, Polewali Mandar, Pasangkayu, Gorontalo, Parepare hingga Wajo.
Di Kabupaten Sigi, kerusakan terjadi pada Kantor Bupati dan puluhan rumah warga. Beberapa rumah dilaporkan roboh.
Longsoran juga terjadi di Gunung Kamarora, sementara retakan tanah ditemukan di Kecamatan Biromaru. Sejumlah saluran air dilaporkan terputus.
Di Kota Palu, kerusakan terjadi pada sejumlah bangunan termasuk di lingkungan Universitas Tadulako. Retakan tanah ditemukan di sekitar Jembatan 3 Palu.
Fenomena surutnya air laut juga dilaporkan warga di kawasan Teluk Palu.
Sementara di Kabupaten Parigi Moutong terjadi kerusakan bangunan dan amblesan badan jalan pada akses menuju Napu sehingga kendaraan tidak dapat melintas.
Mengapa Gempa Susulannya Sangat Banyak?
Hingga laporan dibuat, BMKG telah merekam sekitar 75 gempa susulan. Namun, hingga Kamis (18/6), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 703 kali gempa susulan.
Menurut analisis geologi, banyaknya gempa susulan menunjukkan adanya proses penyesuaian tegangan batuan setelah gempa utama.
Perubahan tegangan tersebut dapat memengaruhi sesar-sesar aktif di sekitar sumber gempa sehingga menghasilkan rangkaian gempa yang menyerupai fenomena swarm.
Karena itu, aktivitas kegempaan di wilayah Palolo masih perlu terus dipantau.
Potensi Likuefaksi dan Bahaya Ikutan
Selain gempa susulan, laporan juga mengingatkan adanya potensi bahaya ikutan berupa likuefaksi, retakan tanah, longsor dan penurunan muka tanah.
Analisis cepat menunjukkan potensi likuefaksi dapat terjadi di Kota Palu, Kabupaten Sigi, serta sepanjang pantai timur Kabupaten Parigi Moutong hingga Kabupaten Poso.
Risiko tersebut dipengaruhi oleh keberadaan tanah lunak dan muka air tanah yang relatif dangkal.
Gempa Palolo dan Pelajaran dari Sejarah
Wilayah Palolo bukan pertama kali mengalami gempa merusak.
Catatan sejarah menunjukkan kawasan ini pernah mengalami gempa yang bersumber dari sesar normal pada tahun 2017 dan 2019. Kedua kejadian tersebut juga diikuti banyak gempa susulan yang menyerupai swarm.
Kesamaan pola tersebut memperkuat dugaan bahwa aktivitas Sesar Normal Palolo menjadi salah satu sumber ancaman geologi utama di kawasan Lembah Palolo. (Red)


