Skrol untuk membaca pos

Dari Biaya Berobat hingga Isi Dapur, Bank Sampah Sintuvu Jadi Harapan Warga Lalombi

Muh. Rifai
Aktivitas warga dalam memilah dan mengelola sampah melalui Bank Sampah Sintuvu di Desa Lalombi, Kabupaten Donggala. Foto: Istimewa
A-AA+A++

“Melalui pendampingan dan keterlibatan warga, sampah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan mulai diarahkan untuk dikelola melalui mekanisme bank sampah. Upaya ini juga menghubungkan peran rumah tangga, kelompok pengelola, pemerintah desa, dan pemerintah daerah,” ujar Munifar.

Inisiatif ini sejalan dengan tujuan Program SOLUSI untuk menjaga keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan yang menopang penghidupan masyarakat. Pengelolaan sampah yang lebih baik diharapkan mampu mengurangi pencemaran di daratan, sungai, dan pesisir.

Nasabah Bertambah, Sampah Terkumpul 1,15 Ton

Pendampingan mulai menunjukkan perkembangan. Jumlah nasabah Bank Sampah Sintuvu meningkat dari 16 orang pada tahap awal menjadi 31 orang, atau bertambah sekitar 93,75 persen.

Pada periode Juli hingga September 2026, kelompok tersebut juga mengumpulkan 1.145,10 kilogram sampah atau sekitar 1,15 ton. Capaian ini menunjukkan semakin banyak warga yang terlibat dalam pengumpulan sampah melalui mekanisme bank sampah.

Untuk mendukung pengelolaan, para pengurus mengikuti pelatihan mengenai prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), administrasi, keselamatan dan kesehatan kerja, serta operasional bank sampah.

Pendampingan juga dilakukan dengan mengunjungi rumah-rumah warga. Pengurus memperkenalkan mekanisme bank sampah, membantu pencatatan, dan mengajak masyarakat menjadi nasabah.

Munifar mengatakan, upaya tersebut bertujuan membangun kebiasaan mengelola sampah sejak dari sumbernya. Warga diharapkan tidak sekadar mengumpulkan sampah, tetapi juga terbiasa memilahnya sebelum diserahkan kepada kelompok pengelola.

“Kami ingin pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada kegiatan mengumpulkan sampah, tetapi dimulai dari bagaimana masyarakat memilah dari rumah, kemudian memiliki wadah untuk mengelolanya. Bank sampah menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kebiasaan tersebut sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kelompok pengelola masih perlu memperkuat administrasi, mekanisme operasional, pengelolaan keuangan, dan jejaring dengan pihak lain. Penguatan tersebut penting agar bank sampah dapat berjalan secara mandiri.

“Yang sedang kami bangun bukan hanya aktivitas bank sampahnya, tetapi bagaimana kelompok ini nantinya memiliki sistem yang bisa mereka kelola sendiri dan terus berjalan,” tambah Munifar.

Mengubah Cara Pandang dan Memperkuat Kelembagaan

Perubahan juga dirasakan Lilian, sekretaris Bank Sampah Sintuvu. Sebelum terlibat dalam kegiatan tersebut, ia menganggap sampah sebagai sesuatu yang tidak lagi berguna. Namun, pengalamannya mengelola bank sampah mengubah pandangan itu.

Berita Lainnya