Skrol untuk membaca pos

Dari Biaya Berobat hingga Isi Dapur, Bank Sampah Sintuvu Jadi Harapan Warga Lalombi

Muh. Rifai
Aktivitas warga dalam memilah dan mengelola sampah melalui Bank Sampah Sintuvu di Desa Lalombi, Kabupaten Donggala. Foto: Istimewa
A-AA+A++

Sampah yang dikumpulkan dari rumah kini menjadi sumber tabungan bagi warga Desa Lalombi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Melalui Bank Sampah Sintuvu, warga tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Asnar, salah seorang nasabah, merasakan manfaatnya ketika jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan. Saat uang yang tersedia tidak mencukupi, ia dapat menarik tabungan dari sampah yang dikumpulkannya.

“Dengan adanya bank sampah ini saya terbantukan saat membutuhkan dana darurat. Kemarin saat saya sakit dan uang untuk berobat kurang, saya bisa menarik tabungan di bank sampah untuk digunakan berobat,” tutur Asnar, Sabtu (10/10/2026).

Manfaat serupa dirasakan Saena. Ia menggunakan uang hasil tabungan sampah untuk membeli beras dan kebutuhan dapur. Sementara itu, Misnawati pernah menarik tabungan untuk membantu persiapan anaknya mengikuti lomba peringatan Hari Kemerdekaan pada Agustus 2026.

“Adanya bank sampah ini saya bisa menabung sedikit demi sedikit. Kemarin saya tarik tabungan sampahku untuk persiapan anakku ikut lomba 17 Agustus,” ujar Misnawati.

Pengalaman ketiga warga tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat langsung bagi rumah tangga. Sampah yang sebelumnya dibuang kini memiliki nilai ketika dipilah dan dikelola dengan baik.

Dari Persoalan Lingkungan Menjadi Peluang Ekonomi

Sebelum Bank Sampah Sintuvu berkembang, Desa Lalombi menghadapi keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah. Tempat penampungan sementara, sarana daur ulang, dan fasilitas pengolahan sampah belum memadai.

Akibatnya, sebagian sampah rumah tangga dibuang ke sungai atau laut. Sampah juga menumpuk di sekitar permukiman atau dibakar secara terbuka. Kebiasaan tersebut berpotensi mencemari lingkungan dan menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat.

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan tenaga terlatih, anggaran desa, serta kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

Melalui Program SOLUSI, Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia bersama Yayasan Bonebula mengembangkan Bank Sampah Sintuvu untuk mendorong perubahan tersebut. Yayasan Bonebula merupakan mitra Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dalam konsorsium SOLUSI.

Project Officer YKL Indonesia, Munifar Salim, menjelaskan, pendampingan tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah. Program ini juga mendorong warga membangun kebiasaan memilah sampah, memperkuat kemampuan kelompok pengelola, dan menata sistem operasional bank sampah.

Berita Lainnya