PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) menyiapkan perubahan besar pada model bisnisnya setelah masih kesulitan membukukan laba hingga kuartal II 2026. Perseroan berencana menghentikan operasi fasilitas produksi konvensional MES pada akhir 2026 dan mengalihkan fokus bisnis kemasan fleksibel ke platform digital milik PT Epac Flexibles Indonesia (EFI).
Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya Perseroan mengurangi beban kinerja dari fasilitas produksi MES. Dalam keterbukaan informasi yang dirujuk dalam press release, operasional fasilitas tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang membuat EPAC belum mampu mencatatkan keuntungan secara konsolidasi meski performa perusahaan mengalami peningkatan hingga kuartal kedua 2026.
EPAC selama ini menjalankan dua metode produksi kemasan fleksibel. Melalui MES, Perseroan memproduksi kemasan fleksibel konvensional menggunakan konsep cetak rotogravure. Sementara melalui EFI, perusahaan mengoperasikan bisnis kemasan fleksibel dengan teknologi digital printing.
Setelah penghentian operasi fasilitas konvensional, seluruh bisnis kemasan fleksibel akan difokuskan melalui platform digital EFI. Perseroan juga menyiapkan ekspansi dengan membuka fasilitas produksi baru di Surabaya pada 2027.
Dengan tambahan fasilitas tersebut, EPAC memproyeksikan kapasitas produksi mampu menopang pertumbuhan penjualan tahunan sekitar 15% hingga 2028. Perseroan juga memperkirakan perubahan struktur operasi tersebut akan mendorong pertumbuhan gross profit, operational profit, EBITDA, hingga net profit setiap tahun.
Dalam proyeksi keuangan 2027-2030 yang ditampilkan pada halaman 3 press release, Perseroan menghitung dampak penghentian operasi MES dan ekspansi usaha terhadap kinerja keuangan. Proyeksi tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan nilai wajar saham EPAC.
Berdasarkan kombinasi metode Discounted Cash Flow (DCF) dan Multiple EBITDA, Perseroan memperkirakan nilai wajar saham EPAC sebesar Rp163 per saham. Dokumen tersebut juga mencantumkan bahwa pendekatan income approach dan market approach menghasilkan indikasi nilai yang sama, yakni Rp163 per lembar saham.
Rencana transformasi ini membuat kinerja EPAC ke depan akan sangat bergantung pada keberhasilan pengalihan produksi ke fasilitas digital EFI, termasuk ekspansi fasilitas Surabaya pada 2027. Perseroan sendiri menyebut berbagai angka proyeksi tersebut sebagai perkiraan ke depan yang dapat berubah mengikuti kondisi aktual. (Red)







