IKLAN-2027-DPRD

Apa Itu Sesar Palolo? Fakta di Balik Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah

Muh. Rifai
Peta Morfologi Wilayah Terdampak dan Sebaran Gempa Bumi 16 Juni 2026. Foto: Arsip Badan Geologi
A-AA+A++

Banyaknya struktur aktif tersebut menunjukkan bahwa perubahan tegangan akibat satu gempa besar dapat memengaruhi aktivitas sesar lain di sekitarnya.

Kondisi Geologi yang Memperkuat Guncangan




Wilayah terdampak tersusun oleh batuan ultramafik, batuan malihan, batuan sedimen, batuan karbonat dan endapan aluvium muda.

Endapan aluvium dan material hasil pelapukan yang belum terkonsolidasi memiliki kemampuan memperkuat guncangan gempa melalui fenomena amplifikasi.

Berdasarkan data Vs30, wilayah terdampak terdiri dari kelas tanah C, D dan E. Kelas E merupakan tanah lunak yang berpotensi menghasilkan guncangan lebih besar dibandingkan tanah padat atau batuan keras.

Kondisi inilah yang diduga turut berkontribusi terhadap kerusakan yang terjadi di sejumlah lokasi.

Dampak Gempa di Sigi, Palu dan Parigi Moutong

Guncangan gempa dirasakan luas di Sulawesi.

BMKG mencatat intensitas mencapai VI-VII MMI di Kota Palu dan V-VI MMI di Kabupaten Sigi. Getaran juga dirasakan di Mamuju, Mamasa, Polewali Mandar, Pasangkayu, Gorontalo, Parepare hingga Wajo.

Di Kabupaten Sigi, kerusakan terjadi pada Kantor Bupati dan puluhan rumah warga. Beberapa rumah dilaporkan roboh.

Longsoran juga terjadi di Gunung Kamarora, sementara retakan tanah ditemukan di Kecamatan Biromaru. Sejumlah saluran air dilaporkan terputus.

Di Kota Palu, kerusakan terjadi pada sejumlah bangunan termasuk di lingkungan Universitas Tadulako. Retakan tanah ditemukan di sekitar Jembatan 3 Palu.

Fenomena surutnya air laut juga dilaporkan warga di kawasan Teluk Palu.

Sementara di Kabupaten Parigi Moutong terjadi kerusakan bangunan dan amblesan badan jalan pada akses menuju Napu sehingga kendaraan tidak dapat melintas.

Mengapa Gempa Susulannya Sangat Banyak?

Hingga laporan dibuat, BMKG telah merekam sekitar 75 gempa susulan. Namun, hingga Kamis (18/6), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 703 kali gempa susulan.

Menurut analisis geologi, banyaknya gempa susulan menunjukkan adanya proses penyesuaian tegangan batuan setelah gempa utama.

Perubahan tegangan tersebut dapat memengaruhi sesar-sesar aktif di sekitar sumber gempa sehingga menghasilkan rangkaian gempa yang menyerupai fenomena swarm.

Karena itu, aktivitas kegempaan di wilayah Palolo masih perlu terus dipantau.