IHSG Anjlok, BEI Perkuat Pasar Modal dan Investasi Syariah
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan langkah agresif menjaga kepercayaan investor dan memperkuat ketahanan pasar modal nasional di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan meningkatnya volatilitas pasar global. Sejumlah agenda strategis digelar sepanjang pekan 18–22 Mei 2026, mulai dari kunjungan pimpinan DPR RI, penguatan pasar modal syariah, edukasi investor muda, hingga pencatatan obligasi dan sukuk baru bernilai triliunan rupiah.
Tekanan terhadap IHSG yang terkoreksi 8,35 persen dalam sepekan menjadi perhatian utama pasar. Di tengah kondisi tersebut, dukungan politik dan sinergi regulator dinilai menjadi sinyal penting untuk menjaga optimisme investor terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Pada Selasa (19/5), BEI menerima kunjungan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di Gedung BEI, Jakarta. Kunjungan itu turut dihadiri Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani, dan Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria.
Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas pasar modal Indonesia yang tengah menghadapi tekanan eksternal. Dalam kesempatan itu, Dasco menyampaikan keyakinannya bahwa fundamental pasar modal Indonesia masih kuat meski IHSG mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.
BEI menilai dukungan lintas lembaga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar dan meningkatkan rasa percaya investor. Koordinasi antara regulator, pemerintah, dan pelaku industri dianggap semakin dibutuhkan di tengah dinamika ekonomi global yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan domestik.
Selain menjaga stabilitas pasar, BEI juga mempercepat pengembangan pasar modal syariah nasional melalui rangkaian kegiatan “Elevate 2026: Indonesia Islamic Capital Market – 15 Years Rising Heading Worldwide” yang berlangsung pada 20–23 Mei 2026 secara hybrid di Main Hall BEI dan platform digital.
Kegiatan tersebut diselenggarakan bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia dengan dukungan OJK. Program itu mencakup Islamic Finance News (IFN) Indonesia Forum dan Sharia Investment Week (SIW) 2026.
Rangkaian acara tersebut menjadi momentum peringatan berbagai tonggak penting pasar modal syariah Indonesia, mulai dari peluncuran Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), penerbitan Fatwa DSN-MUI Nomor 80, hingga implementasi Sistem Online Trading Syariah (SOTS).
Pembukaan kegiatan dilakukan Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Henry Rialdi bersama Direktur BEI Risa E. Rustam.
BEI berharap kegiatan tersebut dapat memperluas literasi dan inklusi pasar modal syariah sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pasar modal syariah global. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam investasi berbasis syariah juga terus didorong seiring meningkatnya minat investor domestik terhadap instrumen keuangan syariah.
Penguatan literasi pasar modal juga dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026 di Bandar Lampung pada 18–19 Mei 2026. Program yang didukung BEI bersama SRO dan OJK itu difokuskan pada peningkatan pemahaman generasi muda terkait investasi pasar modal serta kewaspadaan terhadap investasi ilegal.
Langkah edukasi tersebut dinilai penting karena investor domestik, khususnya generasi muda, kini menjadi penopang utama aktivitas transaksi di pasar modal Indonesia.
Di sisi penghimpunan dana, BEI mencatat aktivitas penerbitan surat utang yang tetap solid. Sepanjang pekan ini terdapat pencatatan dua obligasi dan satu sukuk dengan total nilai mencapai Rp1,375 triliun.
Pada Senin (18/5), PT TBS Energi Utama Tbk mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2026 senilai Rp175 miliar di BEI. Obligasi tersebut memperoleh peringkat idA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia dengan PT Bank Mega Tbk bertindak sebagai wali amanat.
Kemudian pada Jumat (22/5), PT Samudera Indonesia Tbk mencatatkan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2026 senilai Rp700 miliar dengan peringkat idA+(sy) dari PEFINDO. Dalam penerbitan tersebut, PT Bank Syariah Indonesia Tbk bertindak sebagai wali amanat.
Pada hari yang sama, PT Energi Mega Persada Tbk juga mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2026 senilai Rp500 miliar dengan peringkat idA+ dari PEFINDO. Wali amanat untuk penerbitan obligasi itu adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Secara kumulatif, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI sepanjang 2026 telah mencapai 62 emisi dari 41 emiten dengan nilai Rp67,84 triliun. Sementara total obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI saat ini mencapai 697 emisi dengan outstanding sebesar Rp569,01 triliun dan USD148,82 juta.
Di tengah berbagai langkah penguatan tersebut, tekanan pasar saham domestik masih terlihat. Selama periode perdagangan 18–22 Mei 2026, IHSG terkoreksi 8,35 persen dan ditutup di level 6.162,045 dari posisi pekan sebelumnya di 6.723,320.
Kapitalisasi pasar BEI juga turun 10,07 persen menjadi Rp10.635 triliun dari sebelumnya Rp11.825 triliun. Meski demikian, aktivitas transaksi harian justru meningkat. Rata-rata nilai transaksi harian naik 15,68 persen menjadi Rp21,77 triliun, sedangkan volume transaksi harian meningkat 2,53 persen menjadi 36,67 miliar lembar saham.
Di sisi lain, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp309,52 miliar pada perdagangan Jumat (22/5). Sepanjang tahun 2026, nilai jual bersih investor asing tercatat mencapai Rp41,63 triliun. ***


