Dalam beberapa pekan terakhir, pasar juga dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi di sejumlah kawasan. Kondisi tersebut sempat mendorong kenaikan harga emas karena investor mencari aset lindung nilai yang lebih aman.
Meski demikian, penguatan dolar AS dan potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama membuat ruang kenaikan emas menjadi terbatas dalam jangka pendek. Investor kini menunggu data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat untuk melihat peluang perubahan kebijakan moneter.
Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI yang mulai memengaruhi sektor investasi global. Platform investasi dan analisis pasar berbasis AI semakin banyak digunakan investor untuk menentukan strategi perdagangan saham maupun komoditas.
Salah satu strategi investasi berbasis AI yang menjadi perhatian berasal dari ProPicks AI milik Investing.com. Platform tersebut mengklaim mampu memilih portofolio saham unggulan menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
Dalam laporan terbaru, strategi “Tech Titans” disebut mencatat kinerja lebih tinggi dibanding indeks S&P 500 dalam 18 bulan terakhir. Beberapa saham teknologi seperti Super Micro Computer dan AppLovin menjadi bagian dari daftar saham dengan pertumbuhan signifikan dalam periode tersebut.
Meski begitu, analis pasar mengingatkan investor agar tetap memperhatikan risiko volatilitas pasar global. Pergerakan harga komoditas seperti emas, perak, dan tembaga masih sangat dipengaruhi data ekonomi, kebijakan suku bunga, serta kondisi geopolitik internasional.
Untuk perdagangan selanjutnya, pelaku pasar diperkirakan masih akan memantau arah indeks dolar AS dan perkembangan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Kedua faktor tersebut dinilai menjadi penentu utama arah harga emas dalam jangka pendek. (Rfi)








