Pergerakan harga logam mulia kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Eropa, Jumat. Futures emas di Divisi Comex New York Mercantile Exchange tercatat bergerak lebih rendah seiring penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap arah ekonomi global.

Mengutip Investing, pada perdagangan untuk kontrak penyerahan Juni, futures emas diperdagangkan di level USD4.524,20 per troy ons atau turun sekitar 0,74% saat artikel ini ditulis. Penurunan tersebut menunjukkan investor mulai melakukan aksi ambil untung setelah emas sebelumnya bergerak cukup kuat dalam beberapa sesi terakhir.

Sepanjang perdagangan, emas sempat menyentuh level terendah sesi di kisaran USD4.455,00 per troy ons. Level tersebut kini dipandang sebagai area support terdekat yang akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam jangka pendek. Sementara itu, level resistance berada di sekitar USD4.593,20 per troy ons.

Pelemahan emas terjadi di tengah menguatnya Indeks Dolar AS Berjangka atau DX yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Pada perdagangan terbaru, indeks dolar AS naik 0,19% ke level USD99,29.

Kenaikan dolar AS biasanya memberi tekanan terhadap harga emas karena logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Situasi tersebut membuat sebagian investor memilih menahan transaksi sambil menunggu arah kebijakan ekonomi berikutnya dari Amerika Serikat.

Selain emas, pergerakan logam lainnya di pasar Comex juga menunjukkan variasi. Futures perak untuk penyerahan Juli turun 1,64% dan diperdagangkan di level USD76,18 per troy ons. Tekanan pada perak dinilai mengikuti sentimen pelemahan emas serta penguatan dolar AS.

Di sisi lain, futures tembaga justru bergerak menguat. Kontrak penyerahan Juli naik 0,59% ke posisi USD6,35 per pon. Kenaikan tembaga dipengaruhi ekspektasi permintaan industri yang masih cukup stabil di sejumlah negara besar, termasuk sektor manufaktur dan infrastruktur.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan ekonomi global, termasuk arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve. Kebijakan suku bunga masih menjadi faktor utama yang memengaruhi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.

Dalam beberapa pekan terakhir, pasar juga dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi di sejumlah kawasan. Kondisi tersebut sempat mendorong kenaikan harga emas karena investor mencari aset lindung nilai yang lebih aman.

Meski demikian, penguatan dolar AS dan potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama membuat ruang kenaikan emas menjadi terbatas dalam jangka pendek. Investor kini menunggu data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat untuk melihat peluang perubahan kebijakan moneter.

Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI yang mulai memengaruhi sektor investasi global. Platform investasi dan analisis pasar berbasis AI semakin banyak digunakan investor untuk menentukan strategi perdagangan saham maupun komoditas.

Salah satu strategi investasi berbasis AI yang menjadi perhatian berasal dari ProPicks AI milik Investing.com. Platform tersebut mengklaim mampu memilih portofolio saham unggulan menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Dalam laporan terbaru, strategi “Tech Titans” disebut mencatat kinerja lebih tinggi dibanding indeks S&P 500 dalam 18 bulan terakhir. Beberapa saham teknologi seperti Super Micro Computer dan AppLovin menjadi bagian dari daftar saham dengan pertumbuhan signifikan dalam periode tersebut.

Meski begitu, analis pasar mengingatkan investor agar tetap memperhatikan risiko volatilitas pasar global. Pergerakan harga komoditas seperti emas, perak, dan tembaga masih sangat dipengaruhi data ekonomi, kebijakan suku bunga, serta kondisi geopolitik internasional.

Untuk perdagangan selanjutnya, pelaku pasar diperkirakan masih akan memantau arah indeks dolar AS dan perkembangan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Kedua faktor tersebut dinilai menjadi penentu utama arah harga emas dalam jangka pendek. (Rfi)