Harga minyak mentah WTI Nymex tercatat berada di sekitar US$100,54 per barel, sedangkan Brent diperdagangkan di kisaran US$108,68 per barel.
Kenaikan harga minyak memberikan dampak ganda terhadap pasar emas. Di satu sisi, konflik geopolitik meningkatkan minat terhadap aset lindung nilai. Namun di sisi lain, lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi sehingga imbal hasil obligasi naik dan menekan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Tekanan tersebut juga terlihat di pasar saham global. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,83 persen, kontrak berjangka Dow Jones melemah 0,47 persen, sedangkan indeks volatilitas VIX melonjak 8,62 persen sebelum pembukaan pasar AS.
Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 1,99 persen dan Shanghai Composite China turun 1,02 persen. Sementara di Eropa, STOXX Europe 600 melemah 1,15 persen dan FTSE 100 Inggris turun 1,32 persen karena investor mulai memperhitungkan dampak kenaikan harga minyak terhadap pertumbuhan ekonomi dan kebijakan suku bunga.
Dari sisi data ekonomi, Federal Reserve New York melaporkan aktivitas manufaktur yang lebih kuat dari perkiraan. Survei Manufaktur Empire State tercatat naik menjadi 19,5 pada Mei, dibandingkan 11 pada April.
Angka tersebut jauh melampaui perkiraan ekonom yang sebelumnya memperkirakan penurunan ke level 7,3. Hasil survei ini menunjukkan aktivitas manufaktur di wilayah tersebut mencapai level tertinggi sejak November 2024.
Data ekonomi yang lebih kuat ini dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas karena memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve belum memiliki alasan kuat untuk segera menurunkan suku bunga.
Pelaku pasar selanjutnya memantau data produksi industri dan utilisasi kapasitas AS, Survei Peramal Profesional, serta Prakiraan Staf Federal Reserve New York untuk mencari petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi AS.
Secara teknikal, harga emas masih berada dalam tekanan. Target kenaikan berikutnya bagi pembeli berada di area resistensi US$4.605,15 hingga US$4.637,31. Jika berhasil ditembus, harga berpotensi bergerak menuju US$4.671 hingga US$4.729,85.
Sebaliknya, target penurunan jangka pendek berada di bawah level US$4.541,88. Jika area tersebut ditembus, harga emas diperkirakan dapat bergerak turun menuju US$4.503 hingga US$4.481,78 per ons.








