Bank sentral Amerika Serikat kembali menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% pada pertemuan 29 April 2026. Keputusan ini sesuai perkiraan pasar, namun diwarnai perbedaan pandangan cukup tajam di internal.

Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan ini menjadi yang ketiga berturut-turut tanpa perubahan suku bunga. Meski terlihat stabil di permukaan, hasil voting 8-4 menunjukkan dinamika yang tidak biasa. Empat pejabat memilih tidak sejalan dengan keputusan mayoritas, jumlah dissent terbanyak sejak Oktober 1992.

Gubernur Miran termasuk yang berbeda sikap. Ia memilih pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Tiga anggota lainnya tidak sepakat dengan redaksi pernyataan resmi yang memberi sinyal peluang pemotongan suku bunga ke depan.

Dalam pernyataan resminya, The Federal Reserve tetap berhati-hati. Bank sentral ini akan melihat data ekonomi yang masuk, membaca arah prospek, dan mempertimbangkan berbagai risiko sebelum menentukan langkah berikutnya.

“Kami akan terus menilai kondisi ekonomi secara hati-hati dan siap menyesuaikan kebijakan jika diperlukan,” tulis The Fed dalam rilisnya.

Situasi global ikut jadi perhatian. Perkembangan di kawasan Timur Tengah dinilai menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi. Ketegangan di wilayah tersebut bisa berdampak pada pasar dan inflasi ke depan.

Pertemuan kali ini juga punya arti penting dari sisi kepemimpinan. Ini bisa jadi rapat terakhir di bawah Ketua The Fed, Jerome Powell. Departemen Kehakiman Amerika Serikat menghentikan penyelidikan kriminal terhadap Powell, membuka jalan bagi proses pergantian kepemimpinan.

Kevin Warsh, yang sudah dinominasikan sebagai pengganti, dijadwalkan mulai menjabat pada 15 Mei. Kehadirannya menarik perhatian pelaku pasar karena dikenal punya pandangan kebijakan yang berbeda dibanding Powell.

Pelaku pasar kini menunggu data berikutnya, terutama inflasi dan tenaga kerja. Dua indikator ini akan memberi gambaran arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan ke depan.

Arah suku bunga Amerika Serikat tetap jadi perhatian global. Stabilitas kebijakan, kondisi geopolitik, serta pergantian kepemimpinan akan memengaruhi sentimen investor. ***