Massa aksi tiba di lokasi dengan menggunakan mobil sound system serta kendaraan roda dua. Aksi demonstrasi dimulai sekitar pukul 15.10 WITA dengan sejumlah orasi yang disampaikan oleh perwakilan demonstran.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan tuntutan agar Kepala Perwakilan Komnas HAM Sulteng, Livand Breemer, dicopot dari jabatannya. Livand diketahui menjabat sebagai kepala perwakilan sejak tahun 2025.
Koordinator lapangan aksi, Amir Sidik, dalam orasinya menyampaikan tudingan bahwa Livand diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas pertambangan emas ilegal di wilayah Poboya, Kota Palu. Menurut Amir, tudingan tersebut bertentangan dengan sikap Livand yang selama ini kerap bersuara keras terkait aktivitas tambang ilegal.
“Jangan sok suci. Ketua Komnas HAM Sulteng ini ibarat maling teriak maling,” teriak Amir Sidik di hadapan massa aksi.
Ia juga menuding Livand memiliki kolam perendaman emas secara pribadi di kawasan pertambangan Poboya. Dalam orasinya, Amir menyebut bahwa kolam tersebut diduga dikelola melalui kerja sama operasional dengan seseorang yang disebut berinisial S.
Selain menyampaikan tuntutan melalui orasi, massa aksi juga melakukan berbagai bentuk protes di depan kantor tersebut. Di tengah aksi, sebagian demonstran membakar ban bekas sebagai simbol penolakan. Tidak hanya itu, massa juga melemparkan tomat busuk serta kotoran hewan ke arah halaman kantor Komnas HAM Sulteng.
Aksi tersebut berlangsung selama beberapa waktu sebelum akhirnya massa membubarkan diri dari lokasi demonstrasi.
Menanggapi tudingan yang disampaikan oleh para demonstran, Kepala Perwakilan Komnas HAM Sulawesi Tengah, Livand Breemer, memberikan klarifikasi kepada wartawan setelah massa aksi meninggalkan lokasi.
Livand menegaskan bahwa dirinya tetap berada di pihak masyarakat dan tidak terlibat dalam aktivitas pertambangan ilegal seperti yang dituduhkan.
“Saya tidak munafik. Ada memang kolamnya yang dijanjikan ke saya. Tapi sampai saat ini tidak terisi dan tidak ada hasilnya, apalagi sampai saya nikmati,” kata Livand kepada awak media.
Ia menjelaskan bahwa kolam yang disebutkan tersebut belum pernah beroperasi sehingga tidak pernah menghasilkan keuntungan bagi dirinya. Livand juga menolak tudingan lain yang menyebut dirinya pernah terlibat dalam pengangkutan bahan kimia sianida untuk kegiatan pertambangan.




