Palu di Usia 47: Antara Capaian dan Tantangan Keberlanjutan
Oleh: Rusman Ramli, Anggota DPRD Palu Fraksi PKS.
Alhamdulillah, dalam beberapa tahun terakhir Kota Palu menunjukkan geliat pembangunan yang patut diapresiasi. Infrastruktur dan fasilitas publik terus dibenahi, layanan kepada masyarakat semakin berkembang, dan wajah kota sedikit demi sedikit mulai tertata. Tidk berlebihan jika Kota Palu disebut sebagai Kota Lima Dimensi dan Mutiara di Khatulistiwa, karena di dalamnya tersimpan potensi besar untuk menjadi pusat peradaban baru di Sulawesi Tengah.
Tetapi di balik capaian tersebut, ada tantangan nyata yang harus segera diatasi agar pembangunan tidak hanya menjadi deretan proyek fisik, melainkan benar-benar membawa perubahan hidup bagi seluruh lapisan masyarakat. Penghargaan demi penghargaan yang diterima pemerintah kota harus dimaknai bukan sekadar prestise, melainkan cambuk untuk memperkuat arah kebijakan dan memperdalam makna pelayanan publik.
Isu lingkungan menjadi salah satu pekerjaan rumah paling mendesak. Pertumbuhan aktivitas tambang Galian C di kawasan barat Palu dan tambang emas di timur Palu telah memberi dampak nyata terhadap kenyamanan warga dan keberlanjutan lingkungan. Ditambah lagi persoalan lahan HGB maupun eks-HGB, serta kawasan zona merah pascagempa 28 September 2018, masih membayangi perencanaan kota. Pembangunan berkelanjutan tidak bisa dilepaskan dari keberanian menghadapi persoalan-persoalan tersebut secara tuntas.
Sebagai anggota DPRD, saya percaya arah pembangunan Kota Palu hanya bisa berjalan mantap jika ada kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, legislatif, dan masyarakat. Sinergi dalam bingkai “bergerak bersama” menjadi fondasi untuk memastikan bahwa setiap kebijakan berpihak pada kepentingan warga sekaligus menjaga keseimbangan sosial dan ekologis.
Kota Palu tidak cukup hanya berwajah megah secara fisik. Ia harus juga tangguh secara sosial, adil secara ekonomi, dan berkelanjutan secara ekologi. Hal-hal yang dekat dengan keseharian masyarakat, mulai dari pengelolaan parkir, penanganan sampah, hingga pengembangan UMKM harus ditempatkan sejajar dengan pembangunan infrastruktur besar. Dari situlah rasa memiliki warga tumbuh, dan dari situlah kota menemukan jati dirinya.
Dengan semangat kebersamaan, saya optimis Kota Palu akan terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik. Insya Allah, Palu bukan hanya menjadi kota yang tumbuh dan berbenah, tetapi juga rumah yang adil, sejahtera, dan berdaya bagi setiap warganya.
Selamat Milad ke-47 untuk Kota Palu. Semoga kota ini senantiasa diberkahi dan terus bergerak maju sebagai kota yang tangguh, inklusif, dan membanggakan di khatulistiwa. ***
