Oki juga mengungkapkan bahwa tengkorak tersebut ditemukan dengan mulut terlilit kain, menambah kejanggalan pada penemuan itu.
Pada 20 Februari 2025, setelah serangkaian pemeriksaan, identitas kerangka tersebut dipastikan sebagai Feni Ere. Kerangka kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
Dugaan Kuat Pembunuhan, Keluarga Desak Keadilan
Kondisi kerangka yang ditemukan dengan mulut terikat kain menjadi indikasi kuat bahwa Feni Ere bukan sekadar korban kecelakaan, tetapi kemungkinan besar korban pembunuhan.
Sebelum menghilang, pada 25 Januari 2024, teman-temannya telah menemukan percikan darah di kamar Feni, tetapi ia sendiri tidak ditemukan di tempat tersebut.
Beberapa bulan setelah hilangnya Feni, mobil Honda Brio miliknya ditemukan di sebuah rumah kosong di Jalan Amurang, Antang, Makassar, pada Juli 2024, sekitar 340 km dari tempat ia terakhir terlihat. Mobil tersebut telah berada di lokasi itu selama dua bulan sebelum akhirnya dilaporkan oleh petugas keamanan perumahan kepada polisi.
Keluarga meyakini bahwa Feni adalah korban pembunuhan, dan mereka menyesalkan kurangnya koordinasi antara Polda Sulsel dan Polres Palopo dalam penyelidikan kasus ini.
Ayam Hutan, Kebetulan atau Tanda Semesta?
Bagi sebagian orang, kemunculan ayam hutan yang terus-menerus di sekitar lokasi penemuan tengkorak bukan sekadar kebetulan. Dalam beberapa kepercayaan tradisional, hewan sering dianggap sebagai perantara yang menunjukkan keberadaan sesuatu yang tersembunyi.
Namun, jika dilihat secara logis, kehadiran ayam hutan dan belatung menunjukkan bahwa mayat tersebut telah berada di lokasi itu selama waktu yang lama. Apakah tubuh Feni sudah ada di sana sejak lama, atau baru dibuang di sana beberapa bulan terakhir?
Fakta bahwa ayam hutan berulang kali muncul di lokasi yang sama, bahkan sedang memakan belatung di sekitar tengkorak, menjadi petunjuk yang tidak bisa diabaikan. Apakah ini bagian dari takdir, ataukah sekadar kebetulan yang akhirnya mengungkap kebenaran? (Rfi)



