Musim hujan tahun ini membawa tantangan baru bagi Indonesia dengan terjadinya fenomena La Nina Lemah. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menyebut fenomena ini memicu peningkatan curah hujan hingga 40 persen di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dalam Rapat Koordinasi Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi 2024 yang digelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, baru-baru ini, Dwikorita menjelaskan bahwa La Nina Lemah berperan sebagai pendorong pembentukan awan hujan, berbeda dengan El Nino tahun lalu yang bersifat kering. Rakor ini dihadiri oleh Menko PMK Pratikno, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Pj Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono, serta Bupati dan Walikota se-Jawa Timur.

  • Cuaca Ekstrem Akibat Dinamika Atmosfer

“Tahun ini intensitas hujan meningkat karena La Nina dan didukung fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, serta Cold Surge dari Siberia. Ini meningkatkan potensi angin kencang, gelombang tinggi, dan cuaca ekstrem, terutama saat periode Natal dan Tahun Baru,” ujar Dwikorita dalam siaran pers di Laman BMKG.

BMKG sejak November telah mengeluarkan peringatan dini terkait bencana hidrometeorologi. Selain banjir, tanah longsor dan banjir rob juga mengancam berbagai wilayah, termasuk Jawa Timur yang diperkirakan mencapai puncak musim hujan pada Februari 2025.

  • Mitigasi Bencana di Jawa Timur

Pj Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono, menyampaikan, langkah mitigasi yang dilakukan Pemprov Jatim, seperti menetapkan status siaga darurat, menggelar apel siaga, dan memeriksa Early Warning System (EWS).

“Kami juga membentuk klaster mitigasi bencana di delapan wilayah, seperti Metropolitan, Madura, dan Malang Raya, serta mengelompokkan Daerah Aliran Sungai untuk meminimalkan dampak banjir,” ungkapnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau prakiraan cuaca melalui aplikasi InfoBMKG agar dapat mengantisipasi bencana hidrometeorologi.