Dewi dan kawan-kawan mengaku hanya ingin mendapatkan dukungan dari sosok yang mau menjadi mata dan tangan untuk memegang, menuntun, merangkul dan memeluk mereka.
Penyandang disabilitas tak butuh belas kasihan, mereka tidak butuh uang atau materi, merka tidak mencari itu semua, tapi merka mencari sosok yang bisa memberikan kesempatan, memberikan ruang, memberikan tempat untuk berkarya, untuk bisa menjadi lebih baik, agar mereka bisa dihargai di masyarakat, di Provinsi Sulawesi Tengah.
Dia berharap dengan diberikan ruang, stigma negatif di masyarakat yang seolah-olah disabilitas bukan apa-apa, bahkan kadang dianggap aib dan beban bisa dihilangkan.
“Respons dari beliau sangat luar biasa, beliau menangis bersama kami, terharu bersama kami, dan satu kata dari beliau, tidak banyak beliau bilang sama kami, saya jadi gubernur atau tidak jadi gubernur saya adalah Ayah kalian, kalian adalah anak-anak saya,” Dewi menirukan pernyataan Ahmad Ali saat berdiskusi.
“Saya mewakili teman-teman mengucapkan terima kasih karena pak Ahmad Ali sudah merespons kami dengan baik, bahkan bapak bilang kalau memang ada teman-teman disabilitas yang membutuhkan kursi roda, bisa bilang dengan beliau melalui teman-teman Rumah Merah Putih, beliau siap menjadi Ayah untuk kami, itu kesan yang kami rasakan saat bertemu,” tandasnya.
Ia bersama rekan-rekannya juga mendoakan agar Ahmad Ali bisa terpilih sebagai gubernur Sulawesi Tengah pada pemilihan kepala daeran November 2024 mendatang. Meski dengan keterbatasan, mereka ingin ikut mengantarkan Ahmad Ali hingga masuk ke kantor gubernur sebagai kepala daerah.
“Kami yang akan mengantarkan bapak, kalau bapak berkenan, kami mendampingi bapak untuk mengantarkan bapak di pintu kantor gubernur,” ujar Dewi.







