Skrol untuk membaca pos

Anggota DPRD Sulteng Minta Pemerintah Beri Stimulus Petani gagal Panen

Muh. Rifai
Bram Toripalu. Foto: Istimewa
A-AA+A++

Di wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng), dampak El Nino sangat terasa. Dampak yang paling merugikan adalah terjadinya kekeringan yang berkepanjangan. Kondisi ini langsung runtuh dengan melonjaknya harga beras di pasaran belakangan ini.

Melonjaknya harga beras di pasaran seharusnya membawa kabar baik bagi para petani padi karena otomatis menaikkan harga hasil panen mereka. Sayangnya, petani padi di Desa Lantula Jaya, Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng) tidak memanfaatkan peluang tersebut. Kekeringan yang berkepanjangan menyebabkan kondisi sawah di desa tersebut kekeringan sehingga membahayakan tanaman dan membahayakan hasil panennya.

Situasi ini menjadi keluh kesah para petani padi di Desa Lantula yang terungkap saat aspirasi Anggota DPRD Sulteng, Huisman Bram Toripalu. Para petani yang hadir dalam acara ini menyampaikan keluhan terpadu mengenai kondisi sawah dan tanaman mereka yang memprihatinkan akibat kekeringan. Udara pasokan yang tidak mencukupi menghambat pertumbuhan padi, menyebabkan lahan kering dan terfragmentasi.

Kondisi sawah di wilayah mereka yang sudah kering semakin parah akibat perbaikan Sistem Irigasi Ungkaya yang dilakukan sebagai bagian dari upaya rehabilitasi irigasi. Perbaikan ini telah menghentikan pasokan udara ke sawah. Warga sekitar memperkirakan sekitar 50 hektar sawah saat ini terancam gagal panen total.

Melihat kondisi tersebut, Bram Toripalu berharap pemerintah turun tangan dan mengatasi permasalahan ini sebagai bencana gagal panen (fuso). Ia mendesak pemerintah untuk memberikan bantuan stimulus bagi petani yang gagal panen karena mengeluarkan biaya produksi yang cukup besar saat menanam tanamannya.

Dengan pemberian stimulus tersebut, Huisman berharap dapat meringankan beban petani di desa tersebut hingga musim kemarau berakhir.