Ilmuwan Tetapkan Covid-19 Bukan Lagi Pandemi Tapi Sindemi, Apa Maksudnya?
JAKARTA – Sejak mewabah dari Wuhan China akhir tahun 2019, virus Corona atau Covid-19 terus menyebar ke seluruh dunia. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menyebut virus mematikan tersebut sebagai pandemi global.
Hampir setahun pandemi Covid-19 ini berlangsung, jumlah orang yang terinfeksi di seluruh dunia telah mencapai angka lebih dari 52 juta. Meski berbagai strategi dan kebijakan telah dilakukan, sejumlah pakar kesehatan dan ilmuwan menganggap hal itu masih terlalu terbatas untuk menghentikan penyebaran Covid-19.
Seiring dengan berjalannya waktu, ilmuan menilai bahwa virus Covid-19 saat ini bukan lagi menjadi pandemi. Sejumlah ilmuan yang mempelajari perkembangan Covid-19 menyatakan bahwa Covid-19 bukan lagi menjadi sebuah pandemi, tetapi sindemi. Lantas, apa itu sindemi?
Sindemi sendiri merupakan akronim dari kata sinergi dan pandemi. Yang berarti penyakit seperti Covid-19 tidak berdiri secara sendiri. Covid-19 disebut sebagai sindemi ketika ada dua atau lebih penyakit berinteraksi. Di satu sisi ada virus penyebab Covid-19 dan disisi lain ada serangkaian penyakit yang sudah diidap seseorang.
Contoh sindemi adalah COVID-19 berinteraksi dengan penyakit tak menular lainnya seperti diabetes, kanker, atau penyakit jantung. Akibatnya, sindemi ini dapat menyebabkan efek merusak yang lebih besar, dibandingkan jumlah korban dari kedua penyakit tersebut.
Sindemi bukanlah istilah baru. Sindemi sebenarnya telah muncul sekitar tahun 1990-an yang dicetuskan oleh antropolog medis asal Amerika Serikat bernama Merill Singer. Istilah ini digunakan untuk menyebut kondisi ketika dua penyakit atau lebih berinteraksi yang menyebabkan kerusakan yang lebih besar daripada dampak dari masing-masing penyakit tersebut.
“Dampak dari interaksi ini juga difasilitasi oleh kondisi sosial dan lingkungan yang entah bagaimana dapat menyatukan kedua penyakit atau membuat populasi menjadi lebih rentan terhadap dampaknya,” tutur Merill Singer kepada BBC International.
Dalam beberapa kasus, gabungan antara penyakit dan Covid-19 akan memperkuat dampak dan kerusakan yang dialami seseorang.
“Kami melihat bagaimana Covid-19 berinteraksi dengan berbagai kondisi yang sudah ada sebelumnya, diabetes, kanker, masalah jantung dan banyak faktor lain,” lanjut Merill Singer.
Sementara itu, menurut data terbaru dari situs Worldometers pada hari Jumat (13/11/2020), jumlah total kasus Covid-19 di seluruh dunia mencapai 53 juta dan terjadi lebih dari 1,2 juta kematian akibat Covid-19. Indonesia melaporkan jumlah kasus Covid-19 sudah mencapai 452.291 orang, dengan total kasus kematian mencapai 14.933 orang, total yang sembuh mencapai 382.084 orang. [Nisa Diniah]
